Jumat, 04 Maret 2011

Mengubah hal biasa menjadi luar biasa



Kekristenan bukanlah pertunjukan sulap yg memamerkan kecepatan untuk mengubah apa saja sesuai dengan selera penonton. Sebaliknya kekristenan juga bukan perjalanan hidup membosankan tanpa menikmati keindahan dan kekaguman anugerah Tuhan. Satu hal: Tuhan mau menjawab semua persoalan manusia masa kini ataupun masa yg akan datang dengan cara-caraNya sendiri yang tidak terbatas.



Bagi manusia yg serba terbatas, banyak perkara yg  sulit bahkan tidak mungkin dikerjakan, namun perspektif TUHAN memandang segala sesuatu yg tidak mungkin merupakan kesempatan yg terbuka bagi pekerjaanNya.
Allah kita yg tidak terbatas sanggup mengubah hal-hal yang biasa menjadi luarbiasa JIKA TUHAN MAU!!
Sekarang ini, dapatkah kita mengkondisikan KEMAUAN TUHAN untuk berbelas kasihan mengubah kehidupan kita yg biasa-biasa saja menjadi luar biasa sesuai rencanaNya?
Matius 14 : 15 - 19


1. DIBUTUHKAN KEBERANIAN UNTUK MEMPERCAYAI TUHAN

Matius  14:15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." 14:16Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."


Kehadiran sejumlah besar orang yg sangat antusias mencari Tuhan Yesus dari pagi hingga menjelang malam membawa persoalan baru dalam pelayanan: Bagi para murid ini adalah persoalan serius, karena dipuncak populariltas Yesus, mereka harus tetap membangun citra pelayanan yg bertanggungjawab. Tetapi bagaimana caranya untuk memenuhi konsumsi untuk  kurang lebih 10 ribu orang. 


a. Solusi manusia: Menerapkan konsep CUCI TANGAN 


Murid-murid ingin segera membuang tanggung jawab dengan menyuruh
orang banyak itu pergi mencari makan sendiri sendiri. Tetapi Tuhan Yesus 
tidak mengijinkan hal itu.  Tuhan sering meletakkan kita dalam situasi 
dimana tugas pelayanan dalam kapasitas yg besar , kurang sebanding 
dengan sumber daya yg tersedia. Mengapa Tuhan ijinkan? 
Supaya kita tetap bersandar kepada Dia! 



Para murid harusnya menjawab persoalan mereka tetapi malah menciptakan persoalan baru. "Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa". Ini bentuk solusi mudah yg tidak relevan dengan kebutuhan umat. memangnya sudah ada angringan pada saat itu? Sejujurnya harus kita akui bahwa besarnya tantangan dalam pelayanan bukanlah alasan bagi kita untuk boleh meninggalkan tanggung jawab atau bahkan menyerah meletakkan panggilan pelayanan! Keterbatasn dan ketakberdayaan kita dalam mengerjakan tugas pelayanan justru merupakan instrumen vital yg dapat konsisten meletakkan kita pada genggaman tanganNya. 


b. Solusinya Tuhan: Perhatian yg penuh belas kasihan


Tuhan Yesus ikut bertanggungjawab sampai pada urusan perut kita!
Tuhan  menegaskan bahwa : "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Ini adalah bentuk perhatian Tuhan secara langsung pada kebutuhan jasmani manusia. - masalah makanan (kebutuhan primer). kata HARUS menunjukkan kemutlakan tindakan tanpa pilihan!! Tuhan tidak dalam posisi mengambil pilihan perlu atau tidak perlu menolong mereka yg lapar, justru Tuhan menyatakan ketegasannNya bahwa Dia ikut intervensi urusan jasmani kita ! 
tetapi Tuhan..........murid-murid bertanya: problema yg kita hadapi adalah BAGAIMANA CARANYA? jika satu orang membutuhkan Rp.5.000, anggarannya adalah 50 juta sekali makan...wah..... siapa bendaharanya? entahlah...
Gereja dan para pelayan Kristus diajari Tuhan tidak boleh hanya dalam posisi menerima persembahan jemaat saja dan hanya dalam kapasitas sebagai pemberi makanan rohani atau motivator dalam gereja. Sedangkankan faktanya persolaan-persoalan yg bersifat jasmaniah, ekonomi, sosial terus menerus bersentuhan dengan umat perlu dicarikan solusi yg tepat. Gereja tidak boleh mengelak dari tanggungjawab ini! 
Jika masih bingung menjawabnya: ikuti saja 
Cara yg paling tepat mnyelesaikan berbagai persoalan dengan segala keterbatan kita adalah: Mengkondisikan iman kita untuk berani mempercayai TUHAN an KRISTUS.

2. DIBUTUHKAN KEMAUAN UNTUK MELAKUKAN FIRMAN TUHAN



Matius 14:17 Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti   dan dua ikan." 14:18 Yesus berkata:"Bawalah ke mari kepada-Ku
Apa artinya hanya 5 roti dan 2 ekor ikan (bekal minimun seorang anak kecil untuk makan siang) dibanding dengan 10 ribu orang yg lapar? WAH.....terlalu kecil, tidak sebanding, hanya lelucon saja???? memang benar dengan kalkulasi matematika sangat jauh dari mungkin tetapi bagaimana cara Tuhan Yesus. Tuhan berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku"
Tuhan Yesus bersedia menerima dan menyentuhNya berapa saja yg kita berikan kepadaNya, betapapun remehnya, sederhana, tak bernilai......Tuhan tidak meminta yg tidak ada pada kita. Beranilah mempercayai FirmanNya walau itu berkontraksi dengan kalkulasi logika kita!


Yg sering luput dari perhatian kita adalah betapa spesial cara Tuhan mengubahkan 5 roti & 2 ekor ikan itu:


Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti   itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 
  • Ada orang yg berani memberi kepada Tuhan
  • Tuhan Yesus mengucapkan berkat
  • Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti
  • Orang banyak duduk teratur mengikuti perintah Tuhan
  • Para murid membagi-bagkan kepada orang banyak
Ide yg ingin disampaikan Tuhan adalah: hendaklah setiap orang mengambil perannya masing-masing dalam melakukan firman Tuhan dengan tepat.
Karena Tuhan Yesus juga tidak berkata "bim salabin" jadilah mujizat. Tuhanpun sebagai manusia yg sejati harus bekerja extra keras memecah-mecahkan roti untuk sejumlah orang yg hadir, satu demi satu belas kasihNya dicurahkan, pribadi demi pribadi Tuhan perhatikan. Karena bagian Tuhan adalah menyentuh semua keterbatasan kita dengan tanganNya sendiri, supaya yg kita yg biasa ini menjadi sesuatu yg luar biasa.

Perkara yg kecil, hina, diabaikan, tidak masuk hitungan, diremehkan  dianggap BIASA-biasa saja , jika Tuhan yg dipercaya mengerjakannya pasti dapat diubahkan menjadi LUAR BIASA !
bagaimana cara mengubah 5 roti & 2 ekor ikan menjadii cukup bahkan sisa 12 bakul bagi mereka?
Allah tidak menunut peran yg lebih banyak dari yg Tuhan minta: apa yg ada.. apa yg kita bisa, apa yg mampu kita kerjakan, apa yg dapat kita beri, itu sudah cukup bagiNya! Tak usah kita meragukan kemahakuasanNya. Tuhan juga tidak perlu disubsidi dengan energi kita. 
Untuk menyelesaikan persoalan sebesar gunung, Tuhan tidak meminta kita menyiapkan tenaga lebih besar dari gunung, namun hanya iman sebesar biji sesawi saja. Persoalan besar manusia adalah kesempatan besar bagi Tuhan. Kesempitan kita adalah kesempatan bagi Allah.
Jadi bawalah hidup kita yg biasa saja, apa adanya dengan segala kelemahan dan persoalannya pada Tuhan, sebagai respon mengikuti perintah Tuhan dengan taat.
Hasilnya menjadi pasti 5 roti & 2 ekor ikan milik seorang anak kecil diubahkan untuk memenuhi konsumsi 10 ribu orang.. woooo.... ruaaar biasa.

3. DIBUTUHKAN KEMAUAN DIATUR TUHAN

Matius 14:19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itududuk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan   itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti   itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 
Tuhan Yesus tidak meminta lebih banyak dari 5 roti & 2 ekor ikan, apa yg ada sudah cukup bagi Tuhan untuk mengubahkanNya menjadi luar biasa. Bagian yg kita kerjakan adalah ikut saja apa yg diperintahkan Tuhan, saat disuruh duduk dirumput...ya ikuti saja, tidak perlu banyak bertanya : orang lapar koq disuruh duduk tertib? Apa relevansinya duduk dengan makan kenyang!
Mungkin saja "duduk dirumput" adalah bentuk tata kelola massa supaya teratur, dapat mengikuti arahan secara benar sehingga mengefektifkan kerja sesuai rencana., tidak menimbulkan kegaduhan (kata para wakil rakyat kita)
Orang banyak harus duduk dirumput sedang murid-murid memainkan peran sebagai pelaksana lapangan. Apapun polanya bukanlah prinsip rohani yg dapat digeneralisasi.
Kata kuncinya adalah KEMAUAN DIATUR OLEH TUHAN, KEMAUAN MELAKUKAN FIRMAN TUHAN, KEMAUAN UNTUK PERCAYA PADA TUHAN bukan membicarakan persoalan-persoalan persyaratan turunnya mujizat Tuhan harus dengan cara jongkok, duduk atau berdiri jika yg paling secara phisik diartikan yg paling menyentuh tanah yg benar berarti TIARAP lah yg paling benar?
Apa yg menjadi beban persoalan kita saat ini ?
Kesulitan keuangan yg komplek dengan hutang yg menumpuk , penyakit kronis yg menghabiskan investasi, keluarga yg sulit diurus: anak, suami, istri yg sulit dikendalikan,. tidak punya pekerjaan yg mapan, bangkrut dalam usaha dll bahkan sampai Anda berkesimpulan terlalu berat, terlampau besar untuk aku hadapi, rasanya mau menyerah saja, seolah-olah tidak ada lagi sumber yg mampu menyelesaikannya.....
Berhentilah memusatkan perhatian pada diri sendiri dan apa yg ada disekitarnya! Fokuskan iman & harapan pada Kemauan & Kemampuan Allah yg sanggup mengubah hidup Anda.
Tuhan Yesus sanggup mengubah keadaan pelayanan yg biasa menjadi luar biasa!!!
  • jika kita berani mempercayai pribadiNya
  • jika kita mau melakukan  FirmanNya dengan taat
  • jika kita mau diatur dalam segala hal olehNya
Percayalah, tidak ada perkara kecil yg diabaikanNya
tidak ada masalah besar yg tak dapat dipecahkanNya
tidak ada pintu tertutup yg tak dapat dibukaNya
Sekarang ini saatnya menikmati keperkasaan Allah kita yg selalu sanggup mengubah hal biasa menjadi luar bisa.
by Haris Subagiyo: http://graciaministry.blogspot.com

Senin, 28 Februari 2011

Tuhanpun dibuat kagum olehnya


Pekerjaan iman sering dipresentasikan dengan cara cepat  MENDAPATKAN sesuatu secara supra alami dari atas, seperti upaya membuka genggaman tangan Allah dengan cara melipat tangan kita. Benarkah ?
Jika iman Kristen selalu dikaitkan dengan seni untuk menurunkan tangan Allah guna menfasilitasi KEIINGINAN manusia hanya dengan cara mengangkat tangan saja, maka kita sedang mendikte Allah untuk hanya menuruti kemauan kita saja. Ini adalah tampilan kekristenan yg tidak menggugah selera Tuhan sama sekali. Iman sejati sesunguhnya bukanlah persoalan cara efektif menerima atau meminta sesuatu kepada Tuhan. Iman sejati selalu percaya bahwa Allah selalu memberikan yg paling baik menurut otoritasNya sendiri, baik atau tidak baik menurut penilaian kita. Iman selalu tegas mengambil pilihan : Yesus adalah Tuhan, Yesus adalah tujuan, Yesus adalah prioritas utama lebih dari siapapun dan apapun, lebih dari kebutuhan, lebih dari persoalan bahkan lebih besar dari hidup kita!!
Jika iman kita tidak berorientasi pada keTuhan Yesus Kristus dan hanya berputar pada keiinginan manusia semata? selamanya iman kita tidak pernah mengejutkanNya! 
Bagaimana membuat Tuhan Yesus dapat kagum dengan iman kita?


Lukas 9 : 1-10
Iman kita seharusnya bergerak mendudukkan Kristus sebagai Tuhan, bukan hanya melalui kehidupan yang menderita tetapi juga dikala karir bersinar, reputasi hebat, harta cukup, kondisi mapan, diberkati jauh dari kekusutan hidup.



7:1Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.
7:2Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
7:3Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.
7:4Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,
7:5sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."
7:6Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;
7:7sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
7:8Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
7:9Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"

I. Mengubah iman dari MENERIMA menuju semangat MEMBERI



Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.
Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.

Ketika Tuhan Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira Romawi, memohon supaya Tuhan Yesus menyembuhkan hambanya yang lumpuh dan sangat menderita. Hal tersebut tidak lazim, sebab kedatangan perwira Romawi itu biasanya berkaitan dengan urusan politik dan kriminalitas demi stabilitas kekuasaan kolonial Romawi . Namum Perwira Romawi ini berbeda sikap dengan orang Romawi pada umumnya, ia sangat menaruh kasih  terhadap hambanya (budak: dipastikan orang Yahudi), bahkan ia rela bersusah payah mengupayakan kesembuhan hambanya.


a. Iman kepada Tuhan dinyatakan dalam memberi KASIH


Perwira Romawi ini sangat dihormati sekaligus ditakuti oleh rakyat termasuk bangsa Israel  namun demikian demi kesembuhan hambanya, ia mau datang dan memohon kepada Tuhan Yesus. Komunitasnya sebagai tentara yg mencitrakan diri sebagai orang yg tahunya perang, disiplin, melawan dengan senjata, kekerasan namun dalam kisah ini ia tampil sangat bersahaja dengan memberi penghargaan yg sangat tinggi kepada budaknya, kepercayaanNya kepada Tuhan sejajar dengan kasih yg diperbuatnya tanpa pilih kasih.


b. Iman kepada Tuhan dinyatakan dalam kerelaan BERKORBAN 


Perwiran Romawawi (Bhs.Inggris), diterjemahkan ‘centurion’, yang menunjuk kepada orang yang mengepalai 100 orang tentara. Tetapi kontras dengan jabatannya sebagai seorang militer karir: 
  • Ia sangat care dengan persoalan sosial, memberi perhatian sedemikian detail dengan persoalan orang lain bahkan seorang budak yg tidak pantas dihargai.
  • Ia all out memberi support pada pembangunan rumah Allah orang Yahudi, walaupun ia seorang Romawi.
Kiprahnya itu melebihi mereka yg profesional dalam pekerjaan Tuhan atau gerakan sosial. Bagaimana mungkin orang yg sudah memiliki reputasi, mapan, berpengaruh, serba cukup tetapi rela berkorban menenggelamkan diri pada persoalan budak? 
Iman selalu merefleksi dirinya dalam kerelaan berkorban untuk kepentingan yg tidak egois.


c. Iman dinyatakan dengan KEBERANIAN melakukan kebenaran


Bukan saja memberi kasih dan kerelaan berkorban yg ditampilkan, keberanian mendobrak TATAPRANATA dimensi sosial dan religius yg sudah dibakukan saat itu.  Kehadiran perwira ini menciptakan komukasi harmoni antara Yahudi dan Romawi juga antara budak dan Tuan, antara karir dan ibadah!
  • Karena orang Romawi menganggap rendah orang Yahudi, sekarang tidak ada lagi sekat antara Yahudi Romawi, 
  • Perbedaan yg jauh bagai bumi langit antara budak dan tuan juga diterabas. 
Iman kita kepada Tuhan tidaklah didemonstrasikan saat kita sedang terjepit persolaan, terhina, tak berdaya. Terbukti dengan iman sang perwira Romawi ini, memperjuangkan bukan untuk kepentingan diri dan keluarganya tetapi orang lain yg notabene seorang budak yg tidak berharga. Iman yg benar tidak akan pernah berhenti dengan kepuasan mendapatkan sesuatu dari Tuhan walaupun Tuhan adalah sumbernya. Revolusi imanakan menjawab bahwa iman sejati selalu bekerja secara enerjik tanpa pamrih menerobos benteng ke-egoisan diri yg hanya maunya : mendapatkan, menerima dan dilayani.
Aplikasi: 
Dapatkah iman hidup tanpa perbuatan? tidak mungkin!
namun inilah kenyataan yang terjadi ditengah kita: iman yg egois, yg hanya mau menerima, dilayani dan mendapatkan sesuatu saja. Ini model iman pasar, (kualitas iman yg berhenti dengan tercapainya kebutuhan saya namun tidak berdampak pada orang lain), iman yg tidak memiliki dinamika nyata untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan? iman yg statis? Iman yg hanya terkondisikan untuk mengaku percaya secara periodik disetiap ibadah tetapi tidak mau berkarya dalam kemajuan kerajaan Allah. 
Betapa miskinnya kita yg hanya percaya terhadap keselamatan kekal saja, percaya akan pemeliharaan Tuhan, percaya bahwa Tuhan adalah sumber tetapi tidak berlanjut pada lolalitas iman yang memberi apresiasi yg utuh pada keTuhanan Yesus, karena iman tersebut tidak menunjukkan prestasi yg semestinya mencitrakan hidup kita. 

II. Mengubah iman: dari merasa BERHAK menuju mental KERENDAHAN HATI



7:4Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,
7:5sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."
7:6Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;
7:7sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu

Orang lain memberi mengacungkan dua jempol sebagai penilaian obyektif terhadap perwira Romawi yg layak untuk mendapat penghargaan dari Tuhan karena kasih dan pengorbanannya kepada bangsa Yahudi. Sebaliknya perwira ini sendiri dihadapan Tuhan menempatkan diri sebagai orang yg tidak pantas berjumpa dengan  Tuhan Yesus. dengan serius ia menyampaikan argumentasi ketidaklayakannya:
  • Menganggap diri tidak layak untuk datang kepada Tuhan Yesus
  • menganggap diri tidak layak untuk menerima kedatangan Tuhan Yesus
Walaupun ada yang menganggap bahwa ia mengutus tua-tua Yahudi karena alasan rasial bahwa sesama orang Yahudi pasti mempunyai akses lebih baik untuk melobi Tuhan Yesus,  dibandingkan dengan dirinya yang adalah non Yahudi. Realitanya adalah Perwira itu merasa dirinya tidak layak untuk datang kepada Yesus, dan ia menganggap bahwa para tua-tua Yahudi dan sahabat-saabatnya itu lebih baik dari dirinya sendiri, padahal sebetulnya mutu iman dan sikapnya jauh melebihi mereka, tetapi ia sendiri tidak menyadari hal ini. 
Manusia membuat standar kelayakannya sendiri yg boleh dipromosikan kepada Tuhan, dengan melihat nilai hubungan, peran maupun kontribusi material yg diberikan untuk pekerjaan yg mengatas namakan agama. Tetapi perwira ini sendiri mempunyai ukuran sendiri menilai dirinya, dengan menyebutnya Tuhan Yesus sebagai KURIOS berarti TUHAN
  • ia menempatkan diri sebagai hamba (budak), ia tidak lebih baik martabatnya dari budak, ia juga butuh belas kasihan seperti budaknya yg sakit, ia butuh ada pribadi yg berinisiatif turun tangan memberi pertolongan atas hidupnya.
  • Ia sedang berhadapan dengan Tuhan Yesus yang adalah subyek, tujuan, sasaran iman melebihi dari sejumlah persoalan yg sedang dibawanya.
Aplikasi:
Berbagai masalah yg kita hadapi seringkali menjadi forground (latardepan) yg menutupi kelayakan Tuhan yg seharusnya lebih penting dari persoalan bahkan hidup kita. Tetapi kenyataannya iman kita selalu didorong untuk merebut lebih dahulu simpati Allah dengan perasaan BERHAK atau perasaan LAYAK sebagai seorang anak yg seharusnya dimanja. 
Tidak ada yg salah dengan permohonan kita dengan iman kita kepada Tuhan, persoalannya adalah tuntutan kita yg selalu didorong kedepan melebihi kewajiban kita sebagai seorang HAMBA berakibat buruk dalam hubungan kita dengan Tuhan. Karena relasi yg kita bangun hanyanya simbiosis komensalisma dimana kita meminta keuntungan pribadi daripada hubungan benar yg seharusnya terjalin antara Tuhan dan hambaNya.
Dalam praktek berjemaatpun mereka yg telah merasa berjasa dalam pembangunan gereja sering meminta akses nomer satu, diberi attensi lebih besar bahkan harus dilibatkan dalam keputusan yg strategis. Kita tidak dapat menyalahkan hal ini karena gereja sendiri juga ikut mengkondisikan standar kelayakan mereka yg boleh terlibat dalam pelayanan , dipertimbangkan dari dari sisi: peran, hubungan dan kontribusi materi yg diberikan kepada gereja tanpa memasukkan unsur selektivitas karakter dan kapabilitas theologis dalam melayani Tuhan. 


III. Mengubah iman dari percaya diri menuju PENYERAHAN TOTAL



sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"

"Katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh"
Ia membandingkan struktur komando kemiliteran yg selalu menjawab dengan pernyataan "SIAP KOMANDAN" , tidak pernah ada unsur bantahan. Segala perintah harus dijawab dengan "siap" baik atau tidak baik waktunya. Apalagi struktur pemerintahan kerajaan Allah dimana Tuhan Yesus adalah Rajanya diyakini perwira ini sebagai sistem yg jauh lebih besar dan tak terbantahkan dari struktur kemiliteran yg dibangun manusia. Jadi Perkataan Tuhan walaupun sepatah kata saja nilainya akan jauh lebih dahsyat kuasanya untuk mengubahkan segala sesuatu. Inilah keyakinan perwira itu sehingga ia tidak ragu-ragu meletakkan dirinya dan menyerahkan total kepercayaannya kepada Tuhan. 
Sebagai hasilnya Alkitab mencatat perwira ini dinilai mempunyai iman yang luar biasa, iman yg mengundang decak kekaguman Tuhan dan diangggap sebagai prestasi iman diluar batas kebiasaan. Sebagai respon atas imannya, maka pada saat itu juga berkatalah Yesus: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya“ maka pada waktu yang bersamaan Tuhan Yesus berbicara, hambanya yang berada jauh di rumah menjadi sembuh. 
Dari keseluruhan peristiwa ini bahwa proses kesembuhan bukanlah tujuan atau dominasi pembicaraan antara Tuhan Yesus dan perwira. Justru KOMUNIKASI dan RELASI yg sangat indah dari orang yg tidak masuk hitungan bangsa pilihan Allah justru bersinar-sinarnya kepercayaan, kasih, kerendahan hati bahkan ketaatannya kepada Tuhan melebihi bangsa pilihan Allah. 
Aplikasi:

Allah tidak pernah melarang kita menggunakan iman sebagai instrumen untuk meminta atau menerima dari Allah, namun pola kecenderungan kita yg mengasosiasikan iman hanya sebagai media efektif untuk mendapat berkat materi, kesembuhan, sukses atau pasangan hidup dll perlu dikoreksi. Kepercayaan kita pada Tuhan seharusnya menjadi infrastruktrur untuk membangun relasi dan komunikasi yg efektif mendudukkan Yesus sebagai Tuhan melebihi segala kebutuhan dan persolaan hidup kita. Realitanya kita sering berlebihan untuk mendapatkan berkat saja mengabaikan pentingnya relasi yg baik dengan Tuhan.
Segala apa yg dapat kita buat untuk Tuhan bukanlah daya dorong yg kita dapat diandalkan untuk merasa layak untuk mendapat apapun dari Tuhan. Sesungguhnya pujian dan penyembahan pada Allah, kerendahan hati dan ketaatan pada Firman Allah menjadi rating nomer satu melebihi daftar belanjaan kita yg sedang kita daftarkan dalam doa kepada Allah.


Sejauh kita mengaplikasikan iman hanya untuk MENDAPATKAN APA dari Tuhan bukan untuk MEMBERIKAN SESUATU bagi Tuhan, tidak ada yg menarik dengan iman kita!
iman yg biasa saja...iman rata-rata pantas jika Tuhan juga santai saja menanggapinya...........
by haris subagiyo

Selasa, 22 Februari 2011

Dipukul jatuh namun tidak kalah

Hidup ini bukan panggung sandiwara namun realita yg sarat dengan perjuangan tanpa henti setiap hari. Menjadi seorang pemenang sejati tidak pernah terjadi secara kebetulan atau  soal bernasib baik. Seorang juara bukanlah mereka yg tidak pernah mengalami kegagalan namun selalu memacu spiritnya dengan bekerja keras, memandang kedepan, terus berlatih dengan pantang menyerah oleh berbagai rintangan.


Dalam dunia tinju kita mengenal istilah Knocked down dan Knocked out:
Knocked down: apabila si petinju dipukul jatuh oleh lawannya namun masih sanggup bangkit lagi melanjutkan pertandingan sebelum hitungan ke sepuluh
Knocked out: apabila si petinju dipukul jatuh oleh lawannya dan tidak berdaya kembali melanjutkan petandingan setelah melewati hitungan kesepuluh sehingga ia di nyatakan kalah.


Belajar dari Yohanes Markus yg awalnya sempat terpukul kalah atau gagal dalam pengabdiannya kepada Tuhan namun episode berikutnya ia dapat tampil cemerlang dengan segudang prestasi yg dicatat dengan tinta emas oleh Alkitab.


Bagaimana caranya mengubah kegagalan yg berujungkan keberhasilan?
Kisah para rasul 15 : 35-41

Perselisihan antara Paulus dan Barnabas
15:35 Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan   firman Tuhan.   15:36 Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: "Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota,   di mana kita telah memberitakan firman Tuhan,   untuk melihat, bagaimana keadaan mereka." 15:37 Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus;   15:38 tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka   di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. 15:39 Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam  , sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. 15:40 Tetapi Paulus memilih Silas,   dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan   15:41 berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia   sambil meneguhkan jemaat-jemaat   di situ.


Kisah ini mencatat perselisihan antara Paulus dan Barnabas mengenai seorang hamba Tuhan muda bernama Yohanes Markus (keponakan Barnabas) yg telah dianggap Paulus lari dari panggilan Tuhan.


Siapakah Yohanes Markus?
Ibu Yohanes Markus bernama Maria, kelihatannya adalah orang berada, dari golongan atas, dan Kristen; pasti rumahnya cukup besar untuk menampung agak banyak orang. Ia mempunyai lebih seorang pembantu, dan rumahnya digunakan tempat berkumpul oleh masyarakat Kristen pada zaman rasul-rasul, bahkan pada masa-masa penganiayaan (Kisah 12:12)
Kolose 4 : 10 menjelaskan bahwa Yohanes Markus adalah keponakan Barnabas, rekan sekerja Paulus. sebagai paman sekaligus tokoh Kristen utama di jemaat rasuli waktu itu, tentu Barnabas telah memberikan pengaruh positif tentang pelayanan kepada pemuda Yohanes Markus. Oleh karena itu tidak heran apabila akhirnya Yohanes Markus mengambil keputusan penting untuk bergabung dalam team pelayanan Paulus dan Barnabas dalam pekabaran Injil Paulus yg pertama.


Berubah pikiran
Kisah rasul 13 : 13 . bahwa Yohanes Markus meninggalkan team pelayanan di Pamfilia, ia memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya, Yohanes Markus merasa bahwa di rumahnya dia merasakan aman tentram tidak susah seperti di pelayanan dengan kata lain ia gagal memenuhi panggilan pelayanannya sementara ditengah jalan. Hal ini membekas dalam diri rasul Paulus sehingga ia berselisih tajam dengan Barnabas mengenai Yohanes Markus. Barnabas yang sabar berpendapat untuk memberi kesempatan yang kedua buat Yohanes Markus, sedangkan Paulus dengan tegas mengatakan bahwa akibat kesalahannya itu Yohanes harus menanggung konsekuensinya, Paulus kurang berkenan mengajak Yohanes Markus kembali. Paulus bependapat - dalam pekerjaan Tuhan, sekali gagal ya tetap gagal, tidak ada kesempatan yg kedua bagi Markus. Dengan demikian team pelayanan terbagi dua, Paulus memilih Silas lalu pergi ke Siria sedangkan Barnabas bersama Yohanes Markus berlayar ke Siprus. KPR 15: 35-46


Reaksi Yohanes Markus
Yohanes Markus memang pernah gagal ,namun ia tidak berhenti sampai pada titik kegagalan masa lalu saja. Tidak lama berselang, ia berubah pikiran karena menyadari bahwa keputusannya pernah keliru. Sekarang ia me re-komitmen untuk kembali lagi di pelayanan bersama Barnabas. Kali ini benar-benar bertekad untuk melayani, apapun konsekuesinya


Sebagai hasilnya:
Alkitab mencatat dalam II Tim 4:9-11, “Berusahalah supaya segera datang kepadaku, karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia kemari, karena pelayanannya penting bagiku.” Akhirnya Paulus mengakui pelayanan Yohanes Markus. Ia berhasil membuktikan komitmen dan kesungguhan hatinya. Sama sekali tidak ada tulisan yang menyatakan bahwa Yohanes Markus sakit hati atau mengabaikan pesan Paulus, walaupun saat itu Paulus sudah dalam keadaan tua dan hampir dihukum mati. 
Buah karya Markus dapat kita nikmati sekarang yaitu: injil Markus Injil yg tertua dari keempat Injil yg ada.
Rasul Petrus bahkan menyebut Markus sebagai anak rohaninya (IPetrus 5:13)

Jadi: Seorang juara bukanlah orang yg tidak pernah gagal; seorang juara adalah orang yg tak pernah berhenti mencoba.


Empat langkah mengubah kegagalan menuju kebehasilan: 


  1. Evaluasi diri dan mengakui dengan tulus semua kesalahan dan kegagan di masa lalu - pegang teguh janji Tuhan dalam   I Yohanes 1: 9
  2. Mencoba lagi kesempatan berikutnya dengan memohon belas kasihan dan penyertaan Tuhan. Dalam kekristenan tidak ada kamus"terlambat"
  3. Meningkatkan kemantapan pelayanan dengan belajar secara langsung dari rasul Petrus yg tidak asing dengan kegagalan namun diberi kesempatan kedua oleh Tuhan Yesus. Papias bapa gereja abad pertama menyatakan bahwa Yohanes Markus telah mencatat semua kata--kata Petrus mengenai Yesus yg ia ingat, kemudian dimasukkan kedalam Injil yg ia tulis - 16 Pasal singkat tentang pekerjaan Tuhan Yesus yg full action
  4. Bertekun dengan penuh semangat sampai akhir. Menurut tradisi, Yohanes Markus pergi ke Mesir dan menjadi pelopor gereja Coptic Mesir yg masih (minoritas yg sangat diperhitungkan di Mesir saat terjadi suksesi kepemimpinan) sampai sekarang. Di Mesir inilah akhirnya Markus menjadi martir ketika sekelompok orang Alexandria yg tidak menyukai pemberitaan Injil., menjerat leher Markus dan menyeretnya keliling kota tahun 68 AD.
by Haris Subagiyo

Jalan Tuhan atau kebetulan?

Jalan Tuhan tidak pernah merupakan jalan buntu, Dia dapat saja mengubah arah jalan kita. Tetapi Dia selalu menyediakan jalan terbuka bagi kita.
Suatu ketika di Decatur, Illinois (Chicago) hidup seorang anak laki-laki yg sangat tertarik pada seni photo. Dengan tekun ia menabung uang jajannya untuk dapat membeli sejilid buku, lalu memesannya. Namun penerbitnya membuat suatu kekeliruan dalam menangani pesanan tersebut. Sebagai ganti buku tentang seni photo yg telah dipesan anak itu, penerbit mengirim sebuah buku tentang "Ventriloqouism" atu seni bicara dengan perut. Anak itu sama sekali tak merasa tertarik pada buku itu, bahkan ia sama sekali tidak mengerti apa ventriloquisn itu. Ia pun tidak tahu bahwa  sebenarnya ia dapat mengirim buku itu kembali lewat pos. Ia bisa saja mengesampingkan buku itu dengan penuh kekecewaan,. Tetapi ia tidak berbuat demikian. Sebaliknya ia mulai membaca buku itu dan lambat laun ia merasa tertarik. Ia mempelajari bagaimana berbicara dengan perut dan akhirnya ia membuat sebuah boneka kayu yang ia namakan Charlie McCarthy. Dari kekecewaan Edwar Bergen, anak itu membangun suatu karir besar.(1930-1978) anak imigran Swedia Nilla Svensdotter (née Osberg) dan JohanHenriksson Berggren. Dia memberikan kinerja publik pertama di Waveland Avenue Congregational Church yang terletak di sudut timur laut Waveland dan Janssen. Dia  Pada tahun 1965 dia memberi kontribusi gereja dengan murah hati, surat bijaksana, dan foto dirinya yang telah diminta oleh negara dan ditampilkan di ruangan majelis gereja yang didedikasikan untuk Bergen. 

Bergen menjadi entertainer kondang baik di radio, TV maupun talk show berikut beberpa karya layar lebar Edwar Bergen: 
Stage Door kantin (1943) dengan Mortimer Snerd Peran Film lainnya untuk tim termasuk Look Who's Laughing (1941) dan Here We Go Again (1942), Bergen dan McCarthy yang ditampilkan dalam Fun and Fancy Free (1947)  The Muppet Movie (1979). 
Pada puncak popularitas mereka pada tahun 1938, Bergen dibuatkan secara khusus piala Oscar Kehormatan (dalam bentuk patung Oscar kayu) untuk ciptaan-Nya Charlie McCarthy. 
Dimanakah batas kebetualan dengan rencana Tuhan?
"Apakah kejadian itu kesalahan penerbit belaka atau itu merupakan pimpinan Tuhan, sehingga anak itu mendapatkan buku yg salah?"

Dalam menghadapi kekecewaan, sebelum kita menyerah dengan rasa putus asa, biarlah kita bertanya, apakah dalam kekecewaan itu Tuhan mempuyai tujuan yg indah bagi kita?


by Haris Subagiyo