Kamis, 16 Juni 2011

Team Work Empowerment





Sang Legenda juara dunia mobil Formula Satu asal Jerman Michael Schumacher mendapatkan prestasi yang luar biasa dengan meraih Juara Dunia 6 kali tidaklah lepas dari tangan dingin direktur teknik Ferrari Ross Brawn dan si Boss Jean Todd. Ketika Tahun 1996 keluar dari Benetton dan bergabung di Ferrari; Schumacher mempunyai satu syarat dengan memboyong Ross Brawn bersama-sama masuk kedalam timnya. Schumacher begitu yakin dia tidak bisa bekerja sendirian, dia perlu pendukung dalam kesuksesan karirnya. Demikian juga semua elemen yang paling kecil sekalipun dalam Ferrari Team memberikan andil dalam World Championships yang sepertinya cuma milik Schumacher saat ini. Kita melihat disini bahwa prestasi didapat dari sebuah kelompok kerja (team work). 


TEAM-WORK LEADERSHIP
Zaman sekarang dimanapun sepertinya tidak berlaku lagi sebuah kepemimpinan dengan model dictatorship. Rakyat dimana-mana sepertinya sudah pintar-pintar tidak mau dipimpin dengan model kekuasaan yang absolute. Sistem Demokrasi menjadi primadona negara-negara di dunia masa sekarang.

Gaya "one man show leadership" sangat tidak populer lagi; Indonesia sudah kenyang akan hal ini walaupun dulu dikemas dengan bungkus "demokrasi terpimpin" tetapi ini hanya sebuah istilah saja; yang sebenarnya saat itu kita dipimpin oleh seorang "raja". Betapa seorang presiden mempunyai kuasa yang absolute. Hasilnya memang tidak selalu jelek; rakyat bisa aman, ada pembangunan, dan lain-lain. Tetapi jika ini kelamaan ada ekses-ekses yang buruk diantaranya korupsi pada kelompok-kelompok yang dekat dengan penguasa, penyalahgunaan kekuasaan dan berbagai akibat lain.

Di Indonesia setelah gerakan Reformasi, terjadi macam-macam kekacauan; sehingga ada banyak orang yang kembali merindukan Bapak kita yang lama untuk memimpin. Namun apakah ini hal yang relevan ?. Kita sedang masuk kedalam Era Baru Indonesia, marilah kita masing-masing menjadi bagian dalam Indonesia Baru.

Pemimpin yang kita butuhkan adalah sebuah Team Pemimpin ; bukan "one man show leadership". Kita harus cermat memilih team kepemimpinan mana yang paling menjanjikan dalam arah menuju Indonesia baru. Kita sedang ke arah itu dan sedang dalam proses, mungkin Indonesia bisa digambarkan sebagai seorang ibu yang sedang sakit beranak, maka jangan suka mengecam jika masih terjadi hal yang tidak cocok. Menyembuhkan bangsa yang sedang sakit parah memerlukan waktu. Kita tidak boleh menuntut sebuah perubahan yang "revolusioner". Kita harus mengerti betapa susahnya menghapus sebuah sistem yang sudah solid dalam 32 tahun itu. Tetapi mari kita bersama-sama memberikan andil dalam mewujudkan negara dan bangsa yang bersatu untuk maju. Kita mulai dari lingkungan kita yang terkecil, di keluarga, di masyarakat, berdisiplin, berbudaya dan ini akan memberikan andil pada skala yang lebih luas. Saya yakin ada masa depan yang cerah bagi Indonesia.


WARNA KEPEMIMPINAN
Amatilah kira-kira warna apa yang akan dipakai oleh pemimpin baru kita nanti. Apakah Demokrasi Nasionalis, Pluralis, Teokrasi atau yang lain? Sistem Pemerintahan yang represif masa sekarang akan selalu mendapatkan sorotan yang tajam dalam diskursus (wacana) yang bernama HAM. Demikianpun sistem pemerintahan yang teokrasi akan juga bersifat represif dan pasti akan melanggar ham-nya orang yang punya kepercayaan lain. Fundamentalisme dapat menjadi sesuatu yang mengerikan, entah dari agama mana pun. Agama-agama yang hampir seluruhnya mempunyai tujuan luhur yaitu perdamaian; tetapi atas nama agama pula telah terjadi begitu banyak kerusuhan.

Kriteria yang bagaimana yang harus dimiliki pemimpin? Berpenampilan berwibawa?, enak dilihat? haruskan dia (kelihatan) pandai? Haruskan dia pintar dalam berbahasa? Mengenai ini saya ingin berceritera tantang sosok perempuan dengan kepribadian luar biasa Shirin Ebadi, pemenang Nobel Perdamaian 2003. Bahasa Prancis atau Inggrisnya lemah. Satu-satunya bahasa yang dikuasai hanya Parsi, bahasa ibu. Tapi itu ternyata tidak penting. Kiprah Ebadi di negaranya memberikan andil yang penting dalam pemerintahan Presiden Kathami. Pada masa kepemimpinan Kathami, Iran menjadi negara yang lebih demokratis dan toleran setelah sedemikian lama dikuasai oleh sistem teokrasi yang represif tersebut. Kita melihat disini bahwa keberhasilah pemimpin juga karena andil dari orang-orang dibelakangnya.

Kadang kita terlalu under-estimate terhadap figur pemimpin; mampukah dia? layakkah dia? pintarkah dia?. Tetapi itu semua bukan hal yang paling menentukan. Pemerintahan adalah sebuah team yang terdiri dari berbagai elemen, ada presiden, wakil presiden, para menteri, team-team penasehat, dan lain sebagainya. Elemen-elemen itulah yang menentukan keberhasilan sebuah team-work leadership. Perlukah seorang pemimpin yang multi-talents? Hal tersebut tidak tentu dilarang tapi yang terlebih penting adalah kebijaksanaan yang dimiliki pemimpin itu. Kemampuan untuk bisa memberdayakan potensi masing-masing anggota team-work, dan keharmonisan dalam bekerja-sama. Seorang pemimpin yang dominan, lama-kelamaan akan mengarah ke dictactorship; Kita sudah melihat contoh-contoh nya, bukan?!. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diproduksi oleh pemerintah tidak boleh ditentukan oleh "satu orang saja", melainkan harus melalui kesepakatan sebuah dewan yang ada dalam pemerintahan (consensus building).


WOMAN EMPOWERMENT
Haruskah seorang pemimpin itu laki-laki? Walaupun Tuhan menetapkan laki-laki adalah kepala dan istri adalah penolong yang setia. Namun ada beberapa keadaan dimana Allahpun memakai seorang perempuan. Contohnya Deborah seorang nabiah di Efraim yang tinggal diantara Rama dan Betel menjadi hakim orang Israel ketika itu. Dibawah pimpinan Tuhan, dia menyuruh memanggil Barak dan memerintahkannya supaya mambawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon untuk membebaskan Israel (Hakim-Hakim 4). Saya mengangap disini Deborah yang memimpin pembebasan bangsa Israel ini menempatkan dirinya juga sebagai seorang penolong. Deborah mempunyai team-work, sebagai seorang perempuan mungkin dia kurang mampu berjuang sendirian dan mempimpin pasukan, tetapi dia mampu mendelegasikannya kepada Barak untuk melakukan visi mulianya itu dan mereka merupakan sebuah team-work yang solid.

Walaupun tidak sepenuhnya setuju dengan "faham feminisme"; tetapi saya percaya bahwa s2eorang perempuan juga diperlengkapi oleh Tuhan untuk bisa memimpin pada saat diperlukan. Apabila negara kita pernah dipimpin oleh seorang perempuan; maka berbahagialah kaum feminis, bahwa Indonesia telah mencapai titik "kesetaraan gender" yang istimewa. Sebaliknya ketika sebuah kelompok mempersoalkan "gender" dalam kepemimpinan, dan ditambah lagi dengan keluarnya Fatwa Haram terhadap pemimpin perempuan, maka hal demikian adalah sebuah "penganiayaan" dengan menggunakan dalih agama.

Kita telah melihat sejarah banyak sekali perempuan-perempuan Asia yang cukup berprestasi dalam kepemimpinannya contohnya adalah Indira Gandhi, Gloria Macapagal-Arroyo, Benazir Bhutto, Chandrika Bandaranaike Kumaratungga, dan Megawati Soekarnoputri. Sesuatu hal sepertinya seragam bahwa mereka mempunyai ayah yang juga pernah menjadi pemegang kekuasaan yaitu sebagai perdana m2enteri atau presiden di negaranya. Deretan nama ini akan semakin panjang bila menyebut Corry Aquino dan Sirimavo Bandaranaike (3 kali terpilih sebagai PM Srilanka yang juga merupakan the world´s first woman Prime Minister pada tahun 1961.) Sirimavo menjadi Perdana Menteri, setelah suaminya terbunuh bersama dengan menantu lelakinya oleh lawan politiknya. Kiprahnya ini diteruskan oleh anak perempuannya Chandrika menjadi presiden Srilanka sejak tahun 1994 sampai sekarang. Kemudian Makiko Tanaka menjabat sebagai Menteri Luar Negeri perempuan yang pertama di Jepang, juga mempunyai ayah yang pernah malang melintang dan memberi warna pada dunia perpolitikan di Jepang selama kurun waktu 29 tahun. Yang saat ini masih ditunggu kiprahnya lebih lanjut adalah Park Geun Hye putri dari Presiden Korea Selatan Park Chung Hee. Itu semua adalah contoh-contoh perempuan-perempuan yang berprestasi dalam memimpin.

Ketika seorang perempuan diizinkan Allah untuk memimpin, itu bukanlah berarti dia akan hanya menjadi seorang pemimpin saja tetapi dia juga ditempatkan sebagai seorang penolong yang setia dalam keadaan yang diperlukan dan ini bukan berarti mengeleminasi peran laki-laki, seperti halnya Nabiah Deborah dan figur-figur lain dalam Alkitab. Ratu Esther memerankan peran penting bagi keselamatan bangsanya dan juga mempunyai team-work yang bernama Mordekhai. Posisi Mordekhai di luar lingkungan istana sedangkan Esther di dalam lingkungan istana. Figur Mordekhai sebagai rekan-sekerja sungguh istimewa; Mordekhai beriman bahwa Tuhan pasti tidak akan diam, melihat umat-Nya hancur. Hal ini karena Mordekhai melihat di sepanjang sejarah bangsa Israel; Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan, menuntun ketika dalam kesulitan. Mordekhai beriman pada masa yang lalu, jadi Tuhan pasti juga akan memimpin pada masa sekarang. Mordekhai bahkan mampu menggugah Esther, ketika Esther mulai terlena menikmati kedudukannya sebagai ratu dan lupa p400sinya sebagai umat Tuhan (Ester 4:13-14). Jadi bolehlah kita menimbang, apakah ada Mordekhai-Mordekhai masa sekarang di sekitar calon-calon presiden itu.


TEAM KEPEMIMPINAN YANG BERWIBAWA
Kita semua tentu menginginkan seorang pemimpin yang "presents him/herself presidentially" atau figur yang benar-benar menjadi icon bangsa kita yang membuat negara bangga dan hormat terhadapnya. Tetapi terlebih penting adalah hasil kerja dari "team-work leadership" itu.

Bilamana sebuah Team Kepemimpinan itu meraih wibawa didepan mata rakyat?. Adalah ketika mereka membuktikan bahwa mereka adalah team yang mempunyai Integritas!. Bukan hanya obral janji melainkan membuktikan apa yang dijanjikannya itu. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mendengar omongan politikus-politikus adalah karena mereka tidak sepenuhnya merasa yakin bahwa figur itu akan membawa mereka menuju ke tujuan yang mereka janjikan. Apakah pemimpin itu sudah dikenal sebagai seseorang yang mempunyai integritas? Bila ya, maka dia layak menjadi seorang pemimpin bagi bangsa ini. Team Kepemimpinan harus membuktikan bahwa mereka adalah terdiri dari orang-orang yang berdedikasi/ komit terhadap pemulihan negara ini. Yang berani menghadapi resiko, pantang menyerah, mau melakukan perubahan bagi Indonesia ke arah yang lebih baik.

Kepemimpinan yang efektif memerlukan pembinaan kesepakatan umum (consensus building) dan penggalangan dukungan seluas mungkin terhadap kebijakannya. Inilah kehebatan hasil kerja team-work. Gaya-gaya "oneman show leadership" atau "pemimpin yang berjalan semau sendiri" bertentangan dengan prinsip bekerja dalam kelompok (team work), prinsip pembagian kerja dan pendelegasian wewenang, adalah mutlak diperlukan dalam usaha mengatasi krisis sosial-ekonomi yang terpuruk.

Menjadi Pemimpin adalah suatu Kehormatan

Jikalau tidak ada pimpinan jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasehat banyak keselamatan ada” (Amsal 11:14).





Apakah benar bahwa seseorang yang menjadi pemimpin adalah suatu kehormatan baginya? Pertanyaan ini menarik untuk disimak, dalam upaya meneguhkan setiap orang yang menjadi pemimpin bijak, guna menjalankan kepemimpinannya secara penuh berkat dan langgeng.

  1. MENJADI PEMIMPIN ITU KEHORMATAN ATAS PANGGILAN TUHAN ALLAH. Seseorang yang menjadi pemimpin adalah kehormatan karena panggilan dari TUHAN Allah. Kebenaran ini menegaskan bahwa seseorang yang menjadi pemimpin adalah dia yang punya tempat khusus dalam rencana Allah untuk menjadi pemimpin (Yeremia 1:5; Matius 20:23; Markus 10:40; Yohanes 3:27; Banding sebagai contoh: Keluaran 2:23-4:17; Yosua 1:1-18; I Samuel 3:1-4:1a; 16:1-13; dsb). Pemimpin yang terpanggil ini memiliki tempat khusus dalam rencana Allah, yang olehnya ia patut mensyukurinya. Dengan demikian, pemimpin yang memimpin secara sadar bahwa ia terpanggil dan dipercayai TUHAN, maka ia akan bersikap menghargai kepemimpinan pemberian TUHAN itu. Di sini pemimpin harus terus bertanya, apakah TUHAN senang dengan hidup saya dan kepemimpinan saya? Tujuan dari pertanyaan ini adalah untuk terus membenahi hubungan dengan TUHAN.
  2. MENJADI PEMIMPIN ADALAH SUATU PENGHORMATAN. Menjadi pemimpin sebagai suatu penghormatan diawali dengan adanya dukungan kepada seseorang untuk menjadi pemimpin. Dukungan ini menyebabkan ia mejadi pemimpin, maka ia sedang dihormati. Sebagai pemimpin, ia ditempatkan pada tempat kehormatan, di mana semua orang yang dipimpin sedang memberikan pengormatan kepadanya. Penghormatan ini diberikan dengan cara memberi diri dipimpin dan menyebut diri sebagai bawahan. Pemimpin yang menyadari kebenaran ini dan memimpin dengan hati dan kasih setia,  olehnya ia akan dihargakan Allah dan manusia (Amsal 3:1-4), sebagai bagian penghormatannya. Pemimpin harus selalu melihat bawahan sebagai sedang memberikan kepercayaan kepadanya, dengan memberikan penghargaan yang patut bagi dukungan yang mereka berikan. Sikap pemimpin ini adalah agar pemimpin tetap memperoleh kepercayaan dengan kehormatan yang mereka berikan.
  3. MENJADI PEMIMPIN ADALAH KESEMPATAN LANGKA. Seseorang yang menjadi pemimpin sedang memasuki kesempatan langka. Kesempatan langka ini ada karena dua faktor penting. Pertama, Pemimpin membuktikan diri bahwa ia terpanggil oleh TUHAN menjadi pemimpin dan ia secara bertanggungjawab mengisi panggilan itu yang karenanya ia diakui sebagai kredibel. Kedua, orang lain dengan sukarela memberikan peluang kepada pemimpin untuk menjadi pemimpin dan memimpin. Orang lain menjadi bawahan bagi pemimpin adalah suatu kesempatan langka, karena itu pemimpin harus melihatnya sebagai peluang langka berada di atas orang lain. Kesempatan ini memberikan segalanya bagi pemimpin untuk menyebabkan apa pun untuk dapat terjadi, karena itu, ia tinggal menetapkan sikapnya; apakah ia memilih jalan bijak (memimpin dengan hikmat) atau jalan bajak (memimpin dengan menggaruk) untuk memimpin. Apabila pemimpin memimpin dalam kebenaran dan keadilan, maka ia mengisi kesempatan langka ini dengan nilai abadi yang membuat kepemimpinannya langgeng karena ia memberkati banyak orang (Yesaya 32:1-2; Daniel 12:3; I Raja-raja 3:7-13, 28).
  4. MENJADI PEMIMPIN ADALAH PELUANG BESAR UNTUK MENGABDI. Pemimpin sejati akan menyadari bahwa menjadi pemimpin sesungguhnya adalah peluang untuk mengabdikan diri. Dengan kesadaran ini sajalah pemimpin dapat membuktikan kualitas diri dan kualitas kepemimpinannya. Pemimpin yang memimpin sebagai pengabdi yang melayani, akan berada di atas tanpa terganggu oleh sikap pengatasan diri (mengatas-ataskan diri), ia menjadi besar tanpa membersar-besarkan diri, ia menjadi tinggi tanpa meninggi-ninggikan diri (Markus 10:41-47), karena ia memberkati banyak orang. Ia mengataskan orang maka ia akan terus di atas, ia membesarkan orang maka ia akan terus besar; ia meninggikan orang,maka ia akan tetap tinggi, dan kepemimpinannya akan terus menjaya.
  5. MENJADI PEMIMPIN ADALAH DESTINI. Menjadi pemimpin pada akhirnya adalah suatu destini yang diatur TUHAN Allah, karena itu, kepemimpinan adalah suatu kehormatan. Pemimpin yang mensyukuri ini dan mengisi kepemimpinannya dengan roh hikmat, kebenaran, dan keadilan maka akan ada shalom dan keabadian menghiasi kehidupannya, kepemimpinannya, serta destininya (Yesaya 32:8, 17; 33:15-16).

Memimpin dengan Membagi

“…. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang
(Matius 20:28; Markus 10:45).
 

Perlulah disadari bahwa sesungguhnya kepemimpinan dan manajemen serta administrasi memiliki hubungan yang integral. Sebagai Ilmu, Kepemimpinan adalah ilmu induk yang di dalamnya terkait Ilmu Manajemen dan Ilmu Administrasi. Sebagai seni, Kepemimpinan mewadahi Manajemen dan Administrasi, dimana Manajemen adalah “fungsi umum kepemimpinan” yang menjelaskan bahwa tatkala kepemimpinan dijalankan, maka pemimpin memasuki kawasan manajemeni dan memanejemeni. Pada saat yang sama, tatkala Manejer memanejemeni, ia memasuki kawasan administrasi, yang merupakan “fungsi khusus kepemimpinan” yang menyentuh pekerjaan operasional di lapangan. Dalam kaitan ini dapat dikatakan bahwa tatkala pemimpin melaksanakan upaya memimpin (leading attempt) maka ia memanejemeni atau menerapkan manajemen dalam kinerja. Melihat kaitan di atas ini, kini timbul pertanyaan, apa sesunguhnya cara yang terbaik, dan bagaimana pemimpin memimpin, yang olehnya ia dapat mewujudkan upaya memimpin yang berkualitas serta dapat memimpin dengan benar, baik, sehat dan produktif.
Dalam upaya menjawab pertanyaan di atas, pemimpin yang bijaksana perlu memahami bagaimana ia melaksanakan upaya memimpin yang berkualitas sehingga ia dapat membawa organisasi yang dipimpinnya ke arah keberhasilan. Mewujudkan kepemimpinan yang berhasil, maka ada tiga hal khusus yang harus dicerna, disikapi dan diterapkan oleh setiap pemimpin yang arif, yaitu: Pertama, memanejemeni hati, membangun sikap yang meneguhkan hubungan; Kedua, memanejemeni hubungan mencipta situasi responsif dalam organisasi; dan Ketiga, memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan.

MEMANEJEMENI HATI MEMBANGUN SIKAP YANG MENEGUHKAN HUBUNGAN
Setiap pemimpin harus senantiasa menyadari bahwa dalam memimpin, ia akan selalu berhubungan dengan orang, yaitu para staf dan bawahan yang dipercayakan kepadanya. Dalam kaitan ini, tatkala pemimpin memimpin, maka ia dengan sendirinya memanejemeni. Hal yang dimanejemeni pemimpin adalah sumber-sumber, antara lain: orang (men); teknologi (machine), pasar (market); materi (material); uang (money); waktu (moment); infrastruktur (main infrasturctures); metode (methods) dan sistem manajemen (management system). Di antara semua sumber yang dimanajemeni, sumber orang (men) atau sumber daya manusia (SDM) menempati kepentingan utama, untuk dimanajemeni pemimpin, sebagai bagian terpenting dari upaya memimpin. Hal pertama yang akan terlihat dalam upaya memimpin seorang pemimpin ialah bahwa ia berhubungan dengan orang dan memanejemeni orang. Soal apakah ia memanejemeni dengan benar dan baik ataukah tidak, adalah faktor lain, yang berkaitan erat dengan indikator memimpin secara berkualitas.
Menghubungkan pemimpin, upaya memimpin dan orang yang dipimpin, ternyata hubungan-hubungan ini difasilitasi oleh aktualisasi memimpin (actuating). Dalam kepemimpinan, hubungan-hubungan ini mengharuskan pemimpin mengawali upaya memimpinnya dengan memanejemeni perilaku (behaviour) dan pola (style) kepemimpinannya, sebagai bagian dari pembuktian upaya memimpin yang benar, baik dan sehat. Dengan kata lain, pemimpin hanya dapat memimpin orang lain dengan baik apabila ia memanejemeni perilaku dan pola kepemimpinannya dengan benar (effektif), baik (efisien) dan sehat (healthy attitude), sehingga ia terbukti dapat memimpin dengan menggerakkan (influencing) orang yang dipimpin secara berkualitas. Rahasia untuk memimpin secara berkualitas yang menghubungkan pemimpin, upaya memimpin dan orang yang dipimpin adalah: Pertama, Memiliki hati yang bijak dengan memintanya dari TUHAN Allah, sumber segala hikmat (I Raja-raja  3:9-14, 28; I Tawarikh 1:1-12). Dengan hati yang bijak, pemimpin memiliki kearifan yang dibuktikan melalui adanya integritas tinggi (benar, baik, adil, setia, jujur, dapat dipercaya, teguh, luhur – Lihat Filipi 4:5,8). Kedua, Menjaga hati sehingga hidup tetap lurus yang dibuktikan dengan pikiran (terbuka, proaktif, asertif), sikap, sifat,  kata, dan tindakan yang ditandai oleh kebaikkan tertinggi (Amsal 4:23-27); Ketiga, Mempercayakan hati kepada TUHAN Allah, yang akan meluruskan jalan, yang ditandai oleh kebijakkan yang sehat dan memuliakan TUHAN (Amsal 3:5-10).
Kebenaran tentang hati ini adalah rahasia memanejemeni diri (perilaku dan pola), sehingga pemimpin akan terbukti arif dalam berpikir (memiliki peradigma dan perspektif positif), bersikap, bersifat, berkata dan bertindak yang altruis (oriented others). Pemimpin yang memanejemeni dirinya dengan benar dan baik, adalah dia yang akan terbukti menguasai diri (self control) yang nampak dalam kata dan tindakan kepemimpinannya yang berbudi luhur (Yesaya 32:8), yang dengan sendirinya akan menyentuh hati orang yang dipimpin secara bijak pula. Dengan menyentuh hatinya sendiri terlebih dahulu, maka pemimpin dapat menyentuh hati orang lain dan dapat membuktikan diri memimpin secara berkualitas, karena penyentuhan dan pengendalian hati akan meneguhkan hubungan dengan orang lain, khususnya orang yang dipimpin (Matius 7:12).[1] Keempat, Memimpin dari hati, yang menggerakkan untuk bertindak, menyentuh sesama dengan belas kasihan yang tinggi yang olehnya pemimpin mengangkat, memulihkan menyembuhkan, meneguhkan dan memberkati (Matius 9:35-36). Dalam kaitan ini, dapat dikatakan bahwa pemimpin yang memanejemeni hatinya adalah pemimpin yang siap untuk memimpin dengan berbagi yang terbaik dari hidup, yaitu kehidupan yang berkualitas sebagai dasar bagi kepemimpinan berkualitas.
MEMANEJEMENI HUBUNGAN MENCIPTA SITUASI RESPONSIF DALAM ORGANISASI
Memanejemeni hubungan yang bersifat pribadi dan sosial dalam kepemimpinan adalah mencipta situasi responsif sebagai landasan untuk mewujudkan proses upaya memimpin yang berkualitas. Memanejemeni hubungan dalam hal ini adalah upaya untuk membangun jejaringan sosial yang harmonis, terbuka, lugas dan dinamis. Melalui jejaringan sosial seperti inilah pemimpin dapat menjalankan kepemimpinannya dengan menggerakkan orang yang dipimpin secara proporsional sehingga mereka dapat mewujudkan performansi tinggi. Sebagai landasan pijak untuk membangun hubungan responsif ini, perlulah disadari bahwa kepemimpinan berkaitan erat dengan sistem sosial atau masinesasi sosial dengan orientasi kemanusiaan yang kuat yang diwadahkan oleh organisasi. Di sini pemimpin bertanggung jawab untuk mencipta hubungan-hubungan kondusif yang akan beroperasi bagaikan mesin.[2] Dalam hubungan ini, manusia harus diperlakukan sebagai manusia, dimana hubungan perlakuan ini dengan sendirinya akan meneguhkan sikap pemimpin guna mencipta hubungan responsif di antara pemimpin, staf dan para bawahan. Hubungan responsif inilah yang menandakan adanya dinamika tinggi yang mengerakkan kehidupan organisasi. Dasar-dasar untuk meneguhkan pemimpin guna mencipta hubungan responsif ini dapat ditetapkan sebagai berikut ini.
Pertama, Pemimpin harus melihat sesama sebagai “mitra sewaris,” dengan status diri dan perannya yang sama sebagai “sesama pelayan, sesama hamba” (Matius 20:26-27; Markus 10:43-44; Lukas 17:10; I Korintus 3:9a). Di sini, sesama bagi pemimpin harus disikapi sebagai subjek, yang perlu diperlakukan dengan penuh penghargaan dengan menerima serta mengakui kompetensi, kapasitas dan andilnya bagi keberhasilan kepemimpnan. Kedua, Pemimpin harus memperlakukan sesama sebagai “pewaris keberhasilan bersama,” dengan sepenuhnya membangun hubungan di atas kepercayaan (trust) yang sama-sama memiliki tanggung jawab bagi keberhasilan bersama dengan komitmen pengabdian bersama yang tinggi  bagi keberhasilan kerja organisasi (Filipi 2:2-4; I Petrus 5:2). Dalam upaya menerapkan sikap ini, pemimpin harus menghargai potensi, kapasitas, cara kerja dan peran, serta kontribusi bawahan, yang olehnya mereka semakin merasa dilibatkan dan dipercayai sebagai pewaris keberhasilan bersama.  Ketiga, Pemimpin harus menjadi model dalam kehidupan etika-moral dan kinerja (benar, baik, sehat) dengan semangat juang tinggi (compelling spirit), sebagai pemimpin panutan dan pemimpin bertanggung jawab, yang berorientasi kepada membawa keuntungan (keberhasilan) bersama (Ibrani 13:7, 17; I Petrus 5:3-4; Nehemia 2:20).
Pemimpin yang menegaskan sikap dan orientasi seperti ini akan mewadahkan situasi kondusif bagi organisasinya, dimana staf dan bawahan akan merasa “memperoleh tempat layak dengan andil yang sama” dalam kepemimpinan, karena penghargaan, kepercayaan dan keteladanan-nya. Kondisi ini akan meneguhkan semua unsur manusia guna mematutkan sikap terhadap sesama, dan tugas, yang ditandai oleh adanya hubungan responsif berlandaskan kesadaran bahwa keberhasilan organisasi adalah keberhasilan bersama. Kesadaran ini hanya akan terwujud dengan adanya komitmen semua kompenen manusia kepada pengabdian serta kinerja berkualitas dan disiplin tinggi, yang olehnya akan tercipta sinergi yang saling mendukung dengan gerakan kerja yang simultan bagi keberhasilan bersama.
MEMENEJEMENI KERJA YANG TERFOKUS KEPADA KEBERHASILAN
Dalam mewujudkan upaya memimpin dengan kinerja tinggi, pemimpin harus memastikan bahwa ia dan seluruh unsur manusia organisasinya berorientasi kepada memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan. Memastikan upaya kerja yang terfokus kepada keberhasilan seperti ini, pemimpin perlu memanejemeni kerja dengan menemukan dan berbagi visi, dan misi organisasi, membangun suatu perencanaan strategis terpadu, serta menetapkan kerja serta berbagi tugas dengan orotitas, hak, kewajiban, tanggung jawab dan pertangungjawaban yang sepadan. Tindakan ini adalah langkah pemastian agar setiap setiap personel (SDM) organisasi dapat memainkan perannya dengan bekerja efektif, efisien dalam hubungan sehat yang dapat menghasilkan produk kerja yang optimal.
Sebagai landasan membangun upaya memanejemeni kerja yang terfokus kepada keberhasilan, pemimpin harus membangun budaya organisasi yang dilandasi oleh komitmen tinggi kepada kualitas, disiplin dan kinerja tinggi (comitment to quality, discipline and high performance) sebagai dasar untuk membangun manajemen organissi yang dinamis.
Dalam kaitan ini,  pemimpin bertanggung jawab untuk membangun pendekatan berikut. Pertama, Pemimpin membangun budaya kualitas yang diteguhkan di atas pendekatan “Manajemen Kualitas Total” (Total Quality Management) yang akan mewarnai pikiran, sikap, sifat, kata dan tindakan berkualitas, sebagai tulang punggung seluruh kehidupan, orientasi dan performa organisasi dengan daya kerja yang tinggi (Kejadian 41:46-57). Kedua, Pemimpin meneguhkan fokus orientasi kinerja yang terfokus kepada keberhasilan yang terukur (Yeremia 29:11; Kejadian 11:6; Nehemia 2:20a). Ketiga, Pemimpin harus menggalang komitmen bersama untuk mewujudkan kinerja berkualitas dengan etos kerja yang unggul (Kolose 3:17, 23). Keempat, pemimpin memobilisasi, menggerakkan upaya untuk bersinergi mewujudkan kerja yang berkualitas dengan menularkan semangat positif kepada kelompoknya (Nehemia 2:17-20). Kelima, Pemimpin memotivasi, menyemangati dan meneguhkan kinerja berkualitas ke arah keberhasilan bersama dengan memberikan reward (imbalan) dan dorongan positif (praising) yang meneguhkan rasa percaya diri setiap orang dalam kepemimpinannya (Hakim-hakim 4:4-24).

KESIMPULAN

Pemimpin sejati adalah “pemimpin pemberi hidup” (the life giving leader), yang memberi hidup (life giving), karena ia memiliki kehidupan (quality life) yang layak untuk dibagi. Pemimpin sejati yang adalah pemberi hidup, memberikannya dengan memanejemeni hatinya, membangun sikap yang meneguhkan hubungan. Ia juga harus memanejemeni hubungan-hubungan kemanusiaan, mencipta situasi kondusif dan mewadahkan hubungan responsif secara internal dengan meneguhkan budaya kualitas  dan memanejemeni meneguhkan kinerja tinggi, yang terfokus kepada keberhasilan. Diyakini, bahwa pemimpin yang memimpin seperti inilah yang akan melihat keberhasilan memihak kepadanya. Selamat membuktikan diri sebagai pemimpin pemberi hidup, yang memimpin dengan berhasil. Kiranya.

Salam  dan doa,
Dr. Yakob Tomatala

Memimpin dengan Pengaruh Positif

Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau” (Kejadian 30:27).


Kepemimpinan dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Salah satu sudut pandang tentang kepemimpinan adalah bahwa kepemimpinan itu melibatkan proses, pengaruh (influence), dan hubungan-hubungan. Karena itu, dapatlah dikatakan bahwa memimpin berarti mengisi proses upaya memimpin (leading attempt/ actuating) kepemimpinan dengan mempengaruhi orang yang dipimpin dalam hubungan-hubungan keorganisasian. Dari sini dapatlah dikatakan bahwa pengaruh secara spesifik beranjak dari kepribadian pemimpin,yang kalau karakternya positif, akan menularkan pengaruh positif, dan sebaliknya bila karakternya didominasi oleh unsur negatif, maka pengaruhnya tentu akan negatif. Philip Pulaski berkata, “Orang yang berpengaruh andalah dia yang membawa dampak dalam kehidupan orang lain.” Kalau begitu, kita tentu bertanya, bagaimana kita dapat membawa pangaruh positif yang memberkati orang lain dalam kepemimpinan kita? Dalam upaya menjawab pertanyaan ini, marilah kita memaknakan bagaimana kita dapat memimpin dengan membawa pengaruh positif yang memberkati.
1.       MEMBAWA PENGARUH POSITIF DARI HATI YANG BIJAK. Seorang pemimpin yang arif memahami bahwa  menjadi pemimpin baginya adalah suatu kehormatan. Kesadaran ini dibangun di atas kenyataan bahwa adalah kehendak TUHAN bagi seseorang untuk menjadi pemimpin dalam setiap organisasi, apa pun alasan dan caranya (Yohanes 3:27). Dari sudut pandang yang lain, menjadi seorang pemimpin dibangun di atas pembuktian diri sebagai seseorang individu yang kompeten. Ujung dari pembuktian diri ini ialah adanya pengakuan dari orang-orang yang memberikannya penghargaan dan kesempatan baginya menjadi pemimpin melalui berbagai macam cara (memilih, mewariskan, mengangkat, mencipta, dan atau merampas, dsb).
Apa pun cara dan alasannya seseorng menjadi pemimpin, pada saat seseorang terbukti menjadi pemimpin, ia memiliki kuasa kepemimpinan lengkap (complete leadership power, yaitu: kuasa keahlian, kuasa penghargaan sosial, kuasa mengimbali, kuasa bertindak tegas, kuasa legitimat, kuasa rohani) pada dirinya. Dengan kuasa kepemimpinan inilah maka pemimpin memiliki pengaruh yang lengkap untuk memimpin. Dalam hubungan ini, dapat diakatakan bahwa pengaruh adalah dinamika kuasa, dimana dengan pengaruh kepemimpinan inilah seorang pemimpin memimpin, yaitu mempengaruhi bawahannya secara terencana. Melihat hubungan integral antara pribadi pemimpin dan kuasa kepemimpinan yang melahirkan pengaruh kepemimpinan yang ada pada setiap pemimpin, dapat dikatakan bahwa pengaruh kepemimpinannya akan diwarnai oleh faktor pribadi, faktor kuasa kepemimpinan serta  sikap yang muncul dari kombinasi kedua faktor ini. Sikap yang mendominasi pengaruh kepemimpinan seorang pemimpin inilah yang akan nampak dalam proses memimpin, yang menghubungkan pemimpin dan bawahan dalam situasi yang tercipta oleh gaya dan perilaku pemimpin. Dalam hubungan ini akan nampak kadar kepribadian pemimipin yang mempengaruhi situasi kepemimpinan dari organisasi yang dipimpinnya. Di sini akan terlihat bahwa apabila kepribadian pemimpin adalah dominan positif, maka dari kepribadiannya akan terwujudlah  pengaruh kepemimpinan yang beorientasi positif dan sebaliknya. Karena itu, adalah merupakan pilihan sadar yang harus dilakukan pemimpin, berkenan dengan bagaimana ia merefleksikan dan mengekspresikan pengaruh kepemimpinan yang ada padanya dalam upaya memimpin yang dilakukannya. Meneguhkan sikap yang membawa pengaruh positif, Firman TUHAN menegaskan bahwa “ … orang yang luhur budinya merencanakan hal-hal yang luhur dan bertindak luhur pula (Yesaya 32:8 BIS). Karena itu, Firman Allah menasihatkan, “Sebab itu, perhatikanlah baik-baik cara hidupmu. Jangan hidup seperti orang-orang bodoh; hiduplah seperti orang-orang bijak” (Efesus 5:15 BIS). Berdasarkan kebenaran Firman ini, dapatlah ditegaskan bahwa pemimpin hanya dapat mengimpartasi pengaruh positif dari hati yang bijak, melalui gaya dan perilaku khas untuk memimpin (mempengaruhi) para bawahan.
2.       MEMBAWA PENGARUH POSITIF DARI HATI YANG MEMBERKATI. Pemimpin yang bijak akan menyadari bahwa kepemimpinan yang ada padanya yang merupakan kepercayaan dan pemercayaan, adalah suatu kesempatan yang langkah, yang tidak akan terulang dua kali. Kesempatan langkah ini sesungguhnya merupakan momentum yang akan mewarnai upaya memimpin sang pemimpin dengan dampak serta efeknya yang panjang. Dalam kaitan ini, seorang pemimpin yang bijak akan menyadari betapa penting baginya untuk melaksanakan upaya memimpin dalam oprganisasinya dengan orientasi pengaruh positif, yang akan membawa akibat positif bagi kepemimpinannya. Berdasarkan uraian terdahulu, dapatlah dikatakan bahwa pengaruh positif pemimpin sesungguhnya beranjak dari sikap hati yang merupakan pilihan bertanggung jawab untuk menerapkan gaya dan perilaku positif. Gaya dan perilaku positif pemimpin inilah yang akan terbukti melalui pengaruh positif yang menyentuh dan menggerakkan setiap orang di sekitarnya. Dapat pula ditegaskan bahwa dari sikap hati yang positif sajalah pemimpin dapat memberkati kepemimpinannya dengan mengimpartasi kehidupan melalui pengaruh positif (Amsal 4:23). Penegasan ini membenarkan bahwa pemimpin yang melaksanakan upaya memimpin melalui gaya dan perilaku positif sajalah yang akan mampu menggerakkan bawahan secara positif, karena mereka termotivasi oleh faktor positif yang mempengaruhi mereka dalam proses memimpin. Dari sini dapatlah dikatakan bahwa pemimpin yang menjaga hatinya selalu bersih akan menemukan bahwa ia terbukti dapat menjalankan upaya memimpin secara positif dengan dampak dan hasil positif yang memperkati. Di sini seorang pemimpin yang arif akan selalu meneguhkan dirinya dengan kesadaran bahwa apabila ia bertanggung jawab menjaga hatinya, maka akan ada pengaruh positif yang memberkati sesama, seperti yang dikatakan oleh Dallas Willard, “Mereka yang memiliki hati yang terjaga baik adalah orang-orang yang dipersiapkan dan mampu menanggapi situasi kehidupan dengan cara yang baik dan benar.” Di sini dapat disimpulkan bahwa orang yang hatinya terjaga baik sajalah yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang memberkati dengan pengaruh positif. Kalau begitu, dapatlah dikatakan bahwa pengaruh positif dari hati pemimpin yang terjaga sajalah yang akan membawa berkat melalui sifat, sikap, kata dan tindakan pemimpin yang nyata dalam mengekspresikan pengaruh positif melalui upaya memimpin yang membawa berkat.
3.       MEMBAWA PENGARUH POSITIF DENGAN HIDUP SEBAGAI TELADAN PEMIMPIN ROHANI. Telah ditegaskan sebelumnya bahwa kepribadian pemimpin dan kuasa kepemimpinan dari seorang pemimpin melahirkan pengaruh kepemimpinan yang mewarnai gaya dan periakunya. Karena itu telah dikatakan bahwa pemimpin yang bijak sajalah yang akan mampu untuk mengembangkan gaya dan perilalu yang positif dalam kepemimpinan melalui hidup, sifat, sikap, kata dan perbuatannya. Dalam upaya membawa pengaruh positif melalui hidup dan kepemimpinan, Rasul Paulus sebagai Pemimpin Senior menasihati Timotius denganmengatakan, “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kesetiaanmu, dalam kesucianmu. … Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertelunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (I Timotius 4:12b, 16). Penegasan Firman Allah ini memberikan tanggung jawab bagi pemimpin untuk membuktikan diri sebagai pemimpin teladan dalam kehidupan keseharian. Dapat dikatakan bahwa pemimpin yang mematutkan dan mengontrol dirinya adalah dia yang mampu memberikan teladan yang membawa pengaruh positif bagi orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang membawa pengaruh positif, menjelaskan bahwa ia sedang memimpin ke arah yang benar (efektif), baik (efisien) dan sehat (healthy relations), yang dengan sendirinya akan meneguhkan orang-orang yang dipimpinnya. Di sini dapat dikatakan bahwa pemimpin yang memimpin dengan mempengaruhi secara positif akan meneguhkan kepemimnipinan dan membawa organisasinya ke arah sukses. Landasan bagi sukses seperti ini adalah karena pengaruh positif akan menggairahkan semua komponen manusia untuk terlibat aktif karena merasa dihargai, dan akan menghambat pengaruh negatif yang menimbulkan ketegangan. Mempengaruhi secara positif melalui teladan seperi ini dengan sendirinya akan menularkan lingkaran efek positif yang meneguhkan hubungan kemanusiaan, yang pada gilirannya menopang sinergi yang bergerak simultan menggapai sukses organisasi.
REFLEKSI:
Telah diuraikan di atas tentang prinsip memimpin dengan pengaruh positif, cara Alkitab. Dengan demikian, pemimpin dapat mewujudkan kepemimpinannya dengan gaya dan perilaku yang berkualitas, melalui penerapan  prinsip  kepemimpinan berikut:
Pertama, Pemimpin dapat memimpin dengan pengaruh positif yang berakar dari hati yang membentuk kepribadian dan kuasa kepemimpinan yang melahirkan gaya dan perilaku dengan pengaruh positif. Pengaruh positif dalam diri pemimpin hanya dapat dibangun dari hati yang terjaga oleh kasih karunia TUHAN. Dengan menjaga hati sajalah pemimpin dapat mempengaruhi secara positif melalui kekuatan positif yang membuatnya menjadi proaktif dalam melaksanakan upaya memimpin yang berkualitas.
Kedua, Pemimpin dapat menerapkan pola dan perilaku memimpin dengan pengaruh positif yang memberkati orang yang dipimpin, apabila ia membuktikan bahwa dari hatinya yang terjaga baik, ia memberkati orang-orang yang dipimpin melalui mempengaruhi secara positif. Dapat dipastikan bahwa pemimpin yang memberkati melalui sifat, sikap, kata dan perbuatan benar, baik dan sehat dalam upaya memimpin, adalah dia yang pasti mampu menyiapkan situasi positif yang kondusif yang meneguhkan organisasi untuk menjadi organisasi pemberkat.
Ketiga, Pemimpin dapat membuktikan kualitas kepemimpinannya dengan menggunakan pola dan perilaku kepemipinan yang bijak melalui keteladanan hidup positif. Pemimpin dengan keteladanan hidup positif adalah dia yang layak serta mampu mengimpartasi kehidupan dan harapan sukses dalam kepemimpinan yang diembannya melalui mempengaruhi secara proaktif. Pemimpin yang menerapkan memimpin dengan mempengaruhi yang positif bukan saja tidak terkejar, tetapi sekaligus menyiapkan jalan sukses yang langgeng bagi oraganisasinya, dimana akan ada sikap saling menghargai dan saling mendukung dalam proses kepemimpinan yang pasti membawa sukses.
Selamat membuktikan pola dan perilaku memimpin dengan pengaruh positif cara Alkitab, demi sukses organisasi yang memberkati setiap orang dalam kepemimpinan yang diemban, sekarang dan di masa yang akan datang!!!
Jakarta, Maret 2011
Dr. Yakob Tomatala

Benarkah Sabar itu Menguntungkan?

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32).


Sabar? Sabar sepertinya memberi indikator kalah, menurut pandangan sementara orang. Kata sabar ini bisa menjengkelkan bagi yang tidak menyukai dan melawannya. Karena, sabar mengekang jiwa dan membakar emosi, yang bila tidak diledakkan akan menggetirkan diri. Betapa tidak, pada sisi lain, orang yang sabar sering dianggap kalah, rendah, tidak memiliki kekuatan dan seterusnya. Karena itu, sabar itu adalah hal yang memalukan. Inilah dia. Sabar sudah diberikan arti yang “keliru dan sumbang.” Mengapa? Sabar telah diberi bobot negatif, pesimis dan permisif.
Sabar telah menjadi negatif karena menunjukkan sikap orang lemah. Sabar memberi indikasi adanya gaya pesimistis. Sabar, katanya, membuat orang pesimis dan berkata, “inilah saya, saya tidak berdaya melawan,” pikir sementara orang. Sabar diartikan secara permisif, yaitu gaya “kesera-sera what will be will be” karena saya sudah begini, mau apa lagi. Melawan akan tetap kalah juga, jadi sabar saja, jangan buat apa-apa, katanya. Apakah sabar berarti seperti ini?  Namun, dari posisi yang benar, ternyata sabar memiliki keunggulan hebat. Mengapa demikian? Sabar sesungguhnya adalah dasar bagi sikap, sifat, dan kebiasaan hebat yang proaktif yang menghasilkan secara positif. Ingatlah ini: “Sabar itu sober! Sabar itu subur! Sabar itu Zabur! Dan sabar itu shalom!” Apa pula maknanya ini? Marilah kita mulai dengan mencerna makna sabar yang sesungguhnya dan implikasinya bagi keteguhan diri serta keberhasilan dalam hidup serta kepemimpinan.

MAKNA SABAR YANG PAS
Sabar dan orang sabar dalam Amsal 16:32  
Alkitab LAI edisi BIS, dilukiskan dengan pernyataan berikut, “Tidak cepat marah, lebih baik dari pada mempunyai kuasa; menguasai diri lebih baik dari pada menaklukkan kota.” Di sini sabar diartikan sebagai “tidak cepat marah” yang padanannya ialah “menguasai diri.” Makna dari “sabar” terlihat jelas di sini, yaitu sikap tidak cepat marah dengan menguasai diri. Di sini sabar menjelaskan bahwa si penyabar menempatkan kehendak baik (good will), dan pikiran sehat (healthy rationality) di atas emosi.  Sabar menjelaskan bahwa si penyabar berkemauan baik yang ditempatkannya di atas segala yang lain. Ia juga menempatkan pikiran sehat di atas apa pun, sehingga ia tidak membiarkan emosinya mengambil kendali dalam bersikap (menentukan sikap atau menyikapi) apa pun sebagai respon atau reaksi atas aksi atau stimulus yang datang dari luar. Si penyabar dengan menempatkan kehendak baik dan pikiran sehat di atas emosi maka ia terbukti dapat menguasai diri. Di sini emosi diberi tempat yang pas sebagai pendukung kehendak dan pikiran. Perhatikanlah, bahwa “orang yang tidak sabar sebenarnya hanya membiarkan emosinya berada di atas kehendak dan pikiran sehat,” sehingga responnya menjadi emosional.
Dengan respon emosional ini kehendak dan pikirannya dipaksakan untuk menuruti kemauan emosi, maka jadilah “marah” alias “tidak sabaran” kata orang. Sabar dalam artian ini menegaskan adanya kehendak baik, kemauan baik, pikiran sehat untuk menyikapi stimulus (yang dipersepsikan negatif) yang datang dari luar, sehingga sabar dianggap lebih baik dari kekuatan atau kuasa. Sabar menjelaskan tentang kadar penguasan diri yang tinggi serta teguh. Sabar menjelaskan adanya sikap menolak menerapkan kekuatan tanpa kemauan baik. Menerapkan kekuatan atau kuasa tanpa kemauan baik akan terlihat sebagai arogan dengan gaya mendominasi yang egoistis. Sabar adalah sikap menempatkan kemauan baik di atas emosi, dimana emosi berperan mengedepankan kehendak baik yang berapi-api, bukan sikap amarah yang emosional.  Sabar itu benar, baik, indah dan kuat.

SABAR ITU SOBER
Sabar itu sober. Apa artinya ini? Sabar berati sober, dimana si penyabar sedang menggunakan pikiran jernih, “sober mind.” Sabar yang sober ini bukan saja memberikan tempat kepada pikiran sehat di atas emosi, tetapi menjernihkan pikiran dan menggunakan kejernihan itu untuk memandang dan memaknai stimulus yang datang dari luar, sebelum memberikan reaksi. Sabar yang sober akan membuat si penyabar bersikap empati yang objektif yang olehnya ia akan terlihat sebagai “orang berpengertian.” Penyabar sejati, dapat membuktikan diri sebagai orang berhikmat, dengan sober. Sabar dalam artian ini ialah “berpikir jernih” sebagai dasar untuk melakukan sesuatu tindakan (reaksi).  Sabar yang sober ini terlihat dalam Amsal 15:22b yang menegaskan, “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan.” Jadi sabar yang sober, adalah jawaban bagi tindakan yang positif dan berhasil. Sabar itu sober, dimana penyabar adalah “pendengar yang bijaksana yang lambat berkata-kata dan lambat marah.” Ia sabar yang dibuktikan dengan pikiran jernih, sikap dan tindakan yang benar serta membawa kebaikan (Yakobus 1:19).

SABAR ITU SUBUR
Sabar itu subur. Apa maksud dari pernyataan ini? Sabar itu subur mengimplikasikan akan dampak positif dari kesabaran. Sikap sabar mendemonstrasikan kebiasaan benar dan baik pada satu sisi, dimana kebiasaan benar yang baik tentu dilandasi karakter benar dan baik yang bersumber dari nilai etika serta moral yang benar. Sabar menjelaskan bahwa si penyabar berakal budi atau berbudi luhur (Yesaya 32:8), yang dinyatakan dalam sikap dan tindakan yang lemah lembut (Yakobus 3:13-18). Kebenaran tentang sabar yang subur ini disetir dalam Amsal 16:21 yang menegaskan, “Orang yang bijak hati disebut berpengertian” (TB) atau “Orang yang bijaksana dikenal dari pikirannya yang tajam” (BIS), sehingga ia dapat mengendalikan diri dan “berbicara manis lebih dapat meyakinkan” (TB) atau ia membutikan diri sebagai “memiliki cara bicaranya yang menarik, membuat kata-katanya makin menguntungkan” (BIS). Sabar yang subur ini ternyata membawa keuntungan dan kemanfaatan ganda. Pada satu sisi, si penyabar membutikan diri sebagai orang bijak, dan pada sisi lain ia terbukti memelihara hatinya dari yang jahat (Amsal 4:23). Di sini, melalui kesabaran ini, ia menyelamatkan dirinya serta hubungannya dengan orang lain (stimulan) dalam situasi seburuk apa pun. Sabar yang subur ini ternyata membawa kemanfaatan positif dan keuntungan besar.

SABAR ITU ZABUR
Sabar itu zabur mengandaikan bahwa sabar membuat orang dapat bersyukur atau bermazmur dalam segala sesuatu untuk semua kondisi. Sabar dalam kaitan ini menjelaskan bahwa si penyabar yang mengendalikan emosinya, juga mengendalikan kata-katanya, yang olehnya ia membuktikan bahwa ia adalah “orang beribadah yang sejati” (Yakobus 1:26). Orang sabar menggunakan mulutnya untuk “memuji TUHAN” (I Tesalonika 5:16-18). Karena ia mengerti bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebajikan kepadanya” (Roma 8:28), sehingga ia tidak terpancing untuk bereaksi negatif atas stimulus dari luar, seperti kata-kata dan tidandakan seseorang kepadanya yang negatif dan menyakitkan sekali pun. Dengan sikap sabar seperti ini orang sabar “memelihara nyawanya dengan menjaga mulutnya” (Amsal 13:3, 6). Orang yang sabar menyadari bahwa “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak” (Amsal 25:11). Sedangkan, orang yang tidak sabar dan tidak sabaran hanya mengucapkan kata-kata yang menghancurkan bagaikan “tikaman pedang” (Amsal 12:18). Sabar menempatkan si penyabar sebagai manusia bijak yang selalu menggunakan kata-katanya untuk memuliakan Allah dan meneguhkan sesama, karena itu sabar itu zabur.

SABAR ITU SHALOM
Sabar itu shalom. Apa artinya ini? Sabar itu shalom, karena dengan bersikap sabar, si penyabar sedang membuktikan bahwa “ia adalah pengasih sejati” yang mengasihi dan membawa shalom. Si penyabar mengasihi karena ia mengerti bahwa “kasih itu sabar” (I Korintus 13:4a). Ia sabar karena ia menyadari bahwa ia dikasihi Allah, ia diampuni Allah (Kolose 3:12) sehingga ia mengalami damai sejahtera dalam hati, roh,  jiwanya. Dengan jamahan kasih TUHAN ini, si penyabar telah berdamai dengan Allah (Roma 5:9-11) dan menikmati shalom. Dengan kekuatan kasih itulah si penyabar memiliki kemampuan untuk mengampuni sesamanya, seperti ia telah diampuni oleh Allah (Banding: Matius 18:21-22, 23-35). Dengan sikap dan tindakan mengampuni seperti  ini si penyabar sedang menebar kedamaian bagi setiap orang yang ada di sekitarnya. Kualitas hidup baru yang dibangun di atas kasih Allah ini menyebabkan si penyabar mampu membuktikan kinerja yang berkualitas, karena ia dapat melakukan segala sesuatu sama seperti kepada Allah (Kolose 3:17, 23). Si penyabar sabar, karena sabar itu shalom!

IMPLIKASI:
Anda tentu telah meilhat apa dan bagaimana memaknai serta menikati keuntungan dengan sabar serta mencitrakan diri sebagai penyabar sejati. Lihatlah kebenaran tentang sabar yang dapat meneguhkan, seperti  dibawah ini:
  • Sabar mengandaikan adanya kekuatan pengendalian diri yang teguh, sehingga si penyabar bersikap proaktif positif yang konsisten. Sabar membuat ia mampu untuk tidak melukai dan tidak terluka.
  • Sabar menunjukkan adanya kualitas penguasaan pikiran yang terus dipertahankan sejernih-jernihnya, sehingga si penyabar akan selalu berpikir positif, sebagai dasar untuk berkata, bersikap dan bertindak positif. Ia akan terbukti selalu altruistik dengan adanya sikap sabar.
  • Sabar memberikan kekuatan kepada si penyabar untuk membuktikan diri sebagai berbudi luhur yang olehnya ia akan berpikir luhur, berkata luhur dan bertindak luhur. Ia akan selalu membangun.
  • Sabar memberikan kuasa yang meneguhkan si penyabar sehingga ia mampu untuk bersikap teguh dalam menghadapi kondisi nyata. Sabar meneguhkan si penyabar sehingga ia mampu bersyukur kepada Allah serta menjadi berkat bagi sesama dalam segala kondisi. Ia akan selalu rohani dan manusiawi.
  • Sabar mengaruniakan damai sejati kepada si penyabar yang olehnya ia menikmati shalom serta mampu menjadi alat perdamaian kepada sesama dalam hidup keseharian serta kerja. Sabar yang membawa damai ini akhirnya akan membawa hasil yang positif dan penuh berkat secara langgeng dalam kehidupan pribadi mau pun kepemimpinan. Ia akan selalu membawa berkat dan memberkati.
Praktekanlah, maka Anda akan tajub oleh khasiat sabar. Selamat membuktikan diri sebagai “pemimpin yang sabar” yang merupakan karakteristik pemimpin besar, demi keberhasilan hidup dan kepemimpinan!!!
Salam dan doa,
Dr. Yakob Tomatala

Anda Bisa menjadi Entreprenuer Sejati

“Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam”
(Amsal 31:17-18).


Menjadi seorang entrepreneur adalah topik bahasan media yg kian menggairahkn dewasa ini. Karena bayangan kemandirian, kemapanan dan sukses melekat dalam diri sang entrepeneur tersebut. 
Amsal menjelaskan bahwa jalan untuk mendapatkan keberhasilan dan keuntungan secara langggeng adalah mengelola hidup dengan cara melatih, terus berusaha dan menambahkan kapasitas diri secara progresif.

Secara umum, entrepreneur dikonotasikan dengan wirausaha, dan entrepreneurship telah dipadankan dengan kewirausahaan, yang cenderung berkaitan hanya dengan dunia bisnis dan pelaku usaha bisnis. 
bahwa setiap orang yang sukses sampai ke puncak, sesungguhnya adalah dia yang memiliki jiwa entrepreneur. 
Bagaimana menjadi seroang entrepeneur sejati ?

Membangun Pengertian ENTREPENEUR
Kata entrepreneur berasal dari istilah entreprendre, berarti “menjalankan, yang menjelaskan tentang adanya seseorang yang mengorganisir dan menjalankan suatu usaha secara berani dengan tujuan memperoleh keuntungan.” 
Entrepreneur adalah seseorang yang mandiri dan berani  melakukan sesuatu yang membawa keuntungan dan memberikan keuntungan.  Entrepreneur-ship dalam kaitan ini berarti “proses yang ditandai oleh keberanian memulai, mengelola dan menjalankan suatu usaha khusus secara mandiri yang berorientasi kepada keberhasilan atau keuntungan, sehingga dapat menguntungkan secara lebih luas.
Istilah entrepreneur dan entrepreneurship telah dipadankan dengan wirausaha dan kewirausahaan. “wirausaha” artinya “berani berusaha, atau berani menjalankan sesuatu usaha secara mandiri sehingga mendatangkan keberhasilan atau keuntungan. 
Jadi dapat dikatakan bahwa “Kewirausahaan adalah upaya mengembangkan pengaruh dengan mengelola suatu bisnis atau usaha sebegitu rupa secara mandiri, sehingga mendatangkan keuntungan.” 
Kewirausahaan dalam kaitan ini berarti “proses yang ditandai oleh keberanian memulai, mengelola dan menjalankan suatu usaha khusus secara mandiri yang berorientasi kepada keberhasilan atau keuntungan.” 
Menurut Pietra Sarosa seorang wirausaha adalah “Seseorang yang mempunyai visi, semangat dan tindakan-tindakan nyata dalam usaha menciptakan dan mengembangkan sendiri sumber-sumber income-nya tanpa bergantung semata-mata kepada orang lain.
Jelaslah bahwa konsep entrepreneur ini bersifat terbuka, yang dapat meliputi segala bidang kehidupan, yang menunjukkan bahwa seorang entrepreneur itu dapat “siapa aja” dalam bidang “apa saja,” karena yang terpenting ialah bahwa ia memiliki jiwa entreprenur dengan ciri, sikap dan tindakan yang jelas, yang menunjukkan adanya kemandirian tinggi padanya.

MEMBANGUN KARAKTERISTIK ENTREPRENEUR
Seorang entrepreneur memiliki ciri-ciri khusus yang unik. Ciri-ciri entrepreneur yang unik itu adalah antara lain:

I. Entrepreneur adalah seorang yang kompeten. 
Kompetensi ini menegaskan bahwa entrepreneur memiliki kepenuhan-kelengkapan diri yang bersifat individu, profesional dan formal. Kompetensi enterpreneur ini dibangun diatas faktor berikut:
  1. Menemukan visi sebagai dasar membangun kompetensi. Seorang entrepreneur harus memulai dengan menemukan, membangun dan meneguhkan visi (keingin suci, keinginan sejati) sebagai dasar untuk mengembangkan diri serta karirnya.
  2. Meneguhkan budaya kualitas. Kompetensi diri entrepreneur menjelaskan bahwa ia berhasil membangun diri dalam life way berkualitas, yang menegaskan bagaimana ia mengembangkan paradigma, perspektif, sifat, sikap; dan cara unggul.
  3. Membangun kompetensi, mewujudkan INTEGRITAS karakter, sehingga ia dapat dipercayai; KAPASITAS pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih sehingga ia dapat diharapkan; dan KAPABILITAS (kecakapan) sosial dan teknis andal, sehingga ia dapat diandalkan.
II. Entrepreneur adalah seorang mandiri. Aspek kemandirian ini dapat dijelaskan sbb:
    1. Entrepreneur memiliki Keunggulan Pikiran yang membuatnya andal mengungguli orang secara rata-rata di lingkungannya. Hal ini ditandai dengan pola berpikirnya yg terbuka, kreatif, inovatif  dan bersikap proaktif – antisipatif; berpikir dan bersikap besar, berpikir dan bersikap benar; berpikir dan bersikap sinergis simultan; serta berpikir dan bersikap kemungkinan.
    2. Entrepreneur memiliki Keunggulan Keberanian yang menjelaskan bahwa ada kebiasaan unggulan. Kebiasaan unggulan inilah yang menyebabkan seorang entrepreneur itu berani menentukan sikap; berani menemukan, mencipta, mengejar dan menangkap peluang; berani mengubah peluang menjadi produk; berani menanggung akibat dari keputusan; berani mengambil resiko dan petaruhan; berani terbuka melibatkan orang lain untuk bekerja sama dengan penuh kepercayaan serta  penghargaan guna mencipta peluang menjadi uang.
    3. Entrepreneur memiliki Keunggulan MEREKAYASA CARA  yang memberikan keandalan kepadanya. Keunggulan ini membuatnya andal untuk bertindak strategis dan bertindak taktis yang dibuktikan dengan bekerja cakap; bertindak dengan cara unik dan penuh perhitungan, efektif, efisien, sehat, produktif; bertindak dengan gairah penuh; dan bertindak terfokus dan konsisten.
    4. Enterpreneur adalah seorang yang bermental investor. Sejatinya, seorang entrepreneur adalah dia yang memiliki kedewasaan dengan mentalitas investor. Mentalitas investor menjelaskan bahwa ia selain memiliki kestabilan income, ia bebas untuk mengembangkan usaha berciri the second, the third atau the fourth income dst., dengan membiarkan uang bekerja baginya. Dalam hubungan ini, sang entrepreneur hanya bekerja dengan orang yang andal, dapat diharapkan dan dapat dipercaya dengan penerapan manajemen yang tidak rumit dan dapat disupervisi secara menyenangkan.
    III. Enterpreneur adalah seorang eksekutor pemberani

    Enterepreneur adalah seorang eksekutor atau pelaksana yang pemberani. Gerakannya selalu memperhitungkan bagaimana ia memilih, meraih, mencipta peluang, bersikap tidak terbaca; berani menunjukkan keunggulan; melangkah terus berada di depan orang lain, dengan melangkah cepat; dan bertindak tepat. 
    Entrepreneur adalah pribadi yang harus membawa keuntungan bagi banyak orang. yg  pada akhirnya memiliki ciri kemanfaatan tinggi, yaitu ia akan selalu membawa keuntungan dan manfaat yang dapat dinikmati oleh lebih banyak orang ia dapat hidup untuk memberi, hidup untuk menolong dan membuktikan diri sebagai the life giving leader.

      MEMBANGUN BUDAYA ENTREPRENEURSHIP
      Dr. Ir. Ciputra senantiasa bertanya, mengapa Indonesia masih tertinggal secara ekonomi dari Singapura, Taiwan, Hongkong, Jepang, apalagi Amerika Serikat? karena Indonesia terlalu sedikit mempunyai wirausaha entrepreneur.
      Sosiolog Pembangunan, David McLelland  menemukan bahwa suatu negara akan makmur apabila mempunyai wirausaha atau entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk negara itu. TAHUN 2005, Singapura memiliki entrepreneur 7.2% dari total penduduknya, padahal tahun 2001 hanya ada 2.1%. PADA TAHUN 1983, Amerika yang berpenduduk 280 juta memiliki 6 juta entrepreneur, atau sekitar 2.14% dari total penduduknya. Berdasarkan observasi Ciputra dan temuan McLelland ini, dapatlah ditegaskan beberapa kebenaran seputar urgensi dan kepentingan membangun budaya entrepreneurship.

      A. Kepentingan membangun Budaya Entrepreneurship. Menjadi seorang entrepreneur sejatinya adalah melibatkan cara hidup unggul yang menuntut adanya suatu budaya entrepreneurship.
        1. Kadar entrepreneur menjelaskan tentang kualitas kemandirian suatu masyarakat yang menggungkapkan tentang kualitas intelektualitas, kualitas sikap dan kualitas tindakan setiap individu. Kadar kemandirian ini menunjuk tentang sejauh mana suatu masyarakat itu dapat mengisi kehidupannya secara berkualitas, dan muncul sebagai ungul dalam persalingan antar kelompok, mau pun antar bangsa.
        2. Kadar entrepreneurship menjelaskan tentang kualitas kebudayaan yang menunjuk kepada the total lifeway dari suatu kelompok masyarakat atau suatu bangsa yang menjelaskan bagaimana mereka berpikir, bersikap, berkata dan bertindak dalam upaya melanjutkan serta mempertahankan eksistensinya. Di sini akan nampak keunggulan berpikir inovatif, kreatif mengembangkan serta menggunakan teknologi; berpikir asertif, proaktif, antisipatif, menggunakan teknologi bagi pengembangan ekonomi; berpikir dan bersikap sosiatif, energetik, sinegetik dan simultan sebagai landasan menggunakan teknologi untuk bertindak mewujudkan praksis ekonomi yang kompetitif serta unggul.
        3. Kadar entrepreneurship menjelaskan tentang kualitas nilai suatu kelompok atau bangsa yang menunjuk kepada sejauh mana proses inkulturasi dijalankan untuk meneguhkan kehidupan kelompok yang menjelaskan tentang daya juang dan daya tahannya; daya saing dan daya jualnya; yang membuktikan keunggulan kelompok dimaksud yang kompetitif.
        B. Pendekatan membangun Budaya Entrepreneurship. 
        Dari perspektif kebudayaan, worldview yang membakukan nilai-nilai agung suatu kelompok, semuanya ini dibangun melalui proses pembangunan hakikat dan cara pendidikan dalam kebudayaan setiap masyarakat. Dalam perpektif ini, dapat dikatakan bahwa budaya entrepreneur dapat dibangun melalui proses pendidikan yang bersifat informil, non-formil dan formil, untuk mencipta, meneruskan dan membakukan nilai-nilai menjadi suatu worldview. Dari sudut pandang pendidikan dalam kebudayaan ini, pendekatan membangun budaya entrepreneur menyentuh aspek-aspek berkut:
          1. Fokus pendidikan – mewadahkan nilai-nilai ke dalam worldview yang berorientasi entrepreneurship untuk mengembangkan manusia mandiri.
          2. Sistem pendidikan – melibatkan pelaksana didik dan nara didik dengan semangat entrepreneurship yang menggunakan falsafah tranformasi – entrepreneuris yang bermuara kepada pembentukan pribadi peserta didik yang  berjiwa entrepreneur.
          3. Wadah pendidikan – membagi (sharing) nilai entrepreneurship melalui mekanisme pendidikan masyarakat atau keluarga (non-formil); pendidikan ketrampilan sosial dan teknis (informil) dan pendidikan umum atau sekolah (formil) yang harus dilakukan secara berkualitas serta konsisten.
          4. Proses pendidikan – menyentuh interaksi nilai-nilai yang merupakan upaya membentuk falsafah hidup dengan worlview entrepreneurship.
          5. Produk pendidikan – menghasilkan “output” berupa manusia mandiri yang berjiwa entrepreneur dengan kemandirian tinggi yang kompetitif, sehingga mereka dapat berkiprah dalam karir apa pun secara unggul, kompetitif dan sukses di market place.

          Jadi seseorang yang berjiwa entrepreneur dengan kemandirian tinggi akan sanggup berkiprah di market place dalam bidang kehidupan apa pun yang sesuai jatidirinya (inner will) yang merupakan dasar bagi visi dan karir yang ditekuninya.
          Guna mencapainya seorang entrepreneur haruslah kompeten dengan integritas karakter dengan etika moral teguh yang membuat ia dapat dipercaya; dan Kapasitas Pengetahuan yang komprehensif dan khas lebih, yang membuat ia dapat diharapkan dan Kapabilitas Kecakapan Sosial dan Teknis yang membuatnya dapat diandalkan. 
          Secara lebih khusus, ujung dari kompetensi entrepreneur adalah “kemandirian tinggi” yang mewadahkan – keandalan penggunaan pikirannya (Pikiran Unggul); keandalah kebiasaan entrepreneur yang nampak pada keberanian membuat keputusan terhadap peluang (Keberanian Unggul); dan keandalan merekayasa cara (Cara Unggul), sehingga sang entrepreneur dapat membuktikan diri menjadi pelaku yang terus berkiprah kepada keberhasilan yang membawa keuntungan yang menguntungkan diri serta orang lain dalam hidup serta karirnya. 

          Selamat Berkarya bagi Bangsa, Gereja dan keluarga. 
          Tuhan Yesus memberkati.


          MENEGUHKAN DIRI MENJADI PEMIMPIN VISIONER

          Dalam tahun ………. aku melihat TUHAN duduk di atas tahta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yesaya 6:1).




          Apa sesungguhnya visi itu? Apakah visi itu adalah monopoli dari orang yang disebut visioner saja? Ada yang berkata bahwa pemimpin visioner sajalah yang memiliki visi, sedangkang visi itu tidak ada pada orang kebanyakan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Hampir bisa diduga bahwa orang yang seperti ini cenderung mengatakan bahwa ia tidak memiliki visi  karena beberapa alasan. Pertama, Orang sering sulit mengetahui serta menemukan visi karena pada dasarnya mereka tidak memahaminya dengan baik. Kedua, Dari sudut pandang lain, orang juga sering tidak memahami apa dan di mana sumber visi itu, dari mana visi itu datang, bagaimana cara untuk mengetahuinya serta apa cara menggali serta mengembangkannya di dalam diri? Ketiga, visi itu sering disamakan dengan mimpi, sehingga orang sulit menemukannya. Dalam membahas pokok seputar VISI, maka ada tujuh pokok perbincangan yang akan didiskusikan dalam Bab ini. Ketujuh pokok percakapan itu adalah antara lain: 1. Apa sebenarnya VISI itu? 2. Karakteristik dari VISI.,  3. Tanda dari VISI., 4. Menggali VISI., 5. VISI dan IMAN., 6. Membagi VISI. dan 7.  Visi dan Perubahan.



          1. 1. APA SEBENARNYA VISI ITU? Anda tentu telah mengetahui bahwa ada banyak definisi dan pemahaman tentang VISI dalam berbagai literatur. Istilah VISI  berasal dari kata VISION (Bahasa Inggris) yang berakar dari kata visoum (Middle English), dan vision (Old France) yang bersumber dari istilah Latin visio, visus, videre, yang arti dasarnya ialah “to see atau melihat.” Arti selengkapnya dari vision ini adalah “tindakan atau kekuatan melihat dengan mata; atau kemampuan intuisi melihat.” Visi dapat juga berarti “kemampuan melihat lebih dari keadaan normal, yaitu suatu kemampuan mental untuk mengimajinasi; dan kemampuan untuk melihat serta memahami sesuatu yang tidak terlihat oleh orang kebanyakan, dsb.” Visi seperti yang diterangkan di atas menjelaskan tentang kekuatan diri untuk melihat karena visi berarti melihat. Kini timbul pertanyaan, yaitu, dengan pengertian visi seperti ini, apakah ada kejelasan mengenai apa sebenarnya substansi visi itu? Barangkali pertanyaan ini dapat disederhanakan, yaitu, “kalau visi artinya melihat, apa sesungguhnya yang dilihat?” Visi yang artinya melihat ini sebenarnya tidak menjelaskan apa yang dilihat itu, sehingga pengertian tentang visi itu sendiri perlu diperjelas. Dari perspektif yang substantif, VISI dapat didefinisikan sebagai berikut: “VISI adalah kemampuan untuk melihat keinginan suci yang ditulis oleh Sang Pencipta di dalam batin (guna menjawab kebutuhan) yang berkaitan erat dengan pemenuhan hidup seseorang atau setiap individu bagi diri mau pun organisasi yang dipimpinnya.” Defenisi visi yang diungkapkan di atas ini menunjuk kepada Allah sebagai sumber dan pemberi visi yang dilakukan-Nya dengan menuliskannya di dalam batin setiap orang. Visi juga menjelaskan tentang kemampuan untuk melihat apa yang telah ditulis oleh Allah di dalam batin setiap orang tersebut. Visi yang diberikan oleh Allah ini memiliki tujuan yang pasti yaitu untuk pemenuhan hidup, baik kehidupan individu, rumah tangga mau pun kelompok dan kepemimpinan. Pemahaman definisi visi seperti ini dapat dihubungkan dengan pendapat George Barna yang mengatakan bahwa “Vision is a clear and precise mental portrait of preferable future, imparted by God to His chosen servants, based on accurate understanding of God, self and circumstances.” Pemahaman visi seperti yang ditegaskan oleh Barna ini bersifat ekslusif Kristen, yang juga menempatkan Allah sebagai sumber visi itu. Pada sisi lain ada penekanan yang diberikan pada sisi pemimpin, yang memiliki kemampuan untuk melihat visi dimaksud secara jelas, dimana akhirnya ia dapat mengetahui dengan pasti apa yang dinyatakan Allah mengenai masa depan  yang akan dimasuki kelak. Dalam kaitan dengan pengertian visi seperti yang diungkapkan di atas dan dihubungkan dengan kepemimpinan, maka dapat dikatakan bahwa, “Visi kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin untuk melihat serta memahami keinginan suci yang ditulis oleh Allah di dalam batinnya bagi organisasi serta kepemimpinannya.” Pengertian visi seperti ini jelas menunjuk kepada Allah sebagai sumber visi, yang oleh kedaulatan-Nya ia menuliskan keinginan suci itu di dalam batin setiap pemimpin bagi organisasi serta kepemimpinannya. Di sini dapat ditemukan bahwa dalam visi itu ada kehendak Allah yang khusus bagi kepemimpinan seorang pemimpin. Pada sisi lain, visi juga dijelaskan sebagai kemampuan pemimpin untuk melihat secara jelas apa yang tertulis oleh Allah di dalam batinnya untuk dilakukannya. Dalam kaitan ini, Allah sering kali memberikan konfirmasi tentang visi yang ditulis-Nya itu melalui berbagai macam cara. Ia dapat menyatakan visi itu untuk dilihat oleh pemimpin melalui mimpi (Yusuf, Daniel, Paulus, dsb) atau penyataan intuitif langsung atau melalui peristiwa krusial seperti kepada Nehemia dengan berita kehancuran Yerusalem atau Esther dengan berita ancaman maut bagi bangsanya. Visi pun dapat dinyatakan melalui interaksi dinamis dalam kelompok orang yang terlibat dalam suatu kepemimpinan yang berupaya menemukan jawaban bersama untuk mejawab pertanyaan “mengapa mereka ada sebagai suatu organisasi.” Kebenaran mengenai VISI ini ditegaskan oleh Andy Stanley, dengan mengatakan: “Visi-visi lahir dalam jiwa seorang pria atau perempuan yang dihadapkan kepada ketegangan tentang apa sebenarnya yang ada dan apa yang dapat terjadi.” Hal-hal yang dapat diperhatikan dalam penjelasan Stanley di atas adalah: Visi mulai terlihat dengan adanya kebutuhan terasa dihadapkan dengan kondisi yang tidak memuaskan. Dari sinilah VISI mulai menyatakan diri. Kebutuhan terasa dimaksud menunjuk kepada visi sebagai dasar untuk memberikan jawaban kepadanya. Kebutuhan terasa dan kondisi tidak memuaskan ini kemudian berkembang menjadi suatu gambaran mental yang jelas tentang “apa yang dapat terjadi dari apa yang ada.” Penyataan visi semakin menjadi jelas dengan adanya keyakinan yang kuat atas apa yang mungkin saja terjadi dari apa yang ada itu. Dengan penyataan visi ini maka pemimpin kemudian dapat memahami visi yang tertulis oleh Allah di dalam batinnya.



          1. KARAKTERISTIK DARI VISI. dalam upaya untuk menjawab apa sebenarnya VISI itu, tercermin pada pertanyaan tentang “Apa saja yang merupakan karakteristik dasar dari VISI itu?” Pertanyaan tentang karakteristik visi ini dapat dijawab dengan menyimak penjelasan berikut:
          2. VISI bersifat Ilahiah, berasal dari Allah, yang menuliskan  keinginan suci di dalam batin setiap invidu. Rick Warren berkata, “You exist only because God wills that you exist. You were made by God and for God – and until you understand that, life will never make sense.” Dalam kaitan ini, Alkitab memberikan contoh yang jelas melalui pemanggilan Yeremia dimana Allah sendirilah yang  memberikan konfirmasi kepadanya untuk memahami keinginan suci ini (Banding: Yeremia 1:4-10., Kolose 1:16b, dsb).

          1. VISI menjelaskan tentang ‘mengapa anda ber-ADA’ (esse), dan apa TUJUAN (purpose) keberadaan anda, serta ‘ke arah mana’ (life objective) hidup anda tertuju’ (yang berhubungan dengan bene esse atau kesejahteraan yang didambakan). Visi dalam pengertian ini menjelaskan tentang tujuan khusus keber-ada-an setiap individu yang memberikan sense of purpose dan fokus yang jelas kepadanya. Dengan demikian, apabila ia menemukan sense of purpose dan fokus ini, maka ia kemudian dapat menjadi berbeda dengan mencapai tujuan kehidupan bagi diri mau pun organisasi yang dipimpinnya. Dalam kaitan ini, anda harus memperhatikan faktor yang disebut di sini bila merumuskan visi itu.
          2. VISI bersifat dulu (life root), kini (now) dan besok (future)., untuk itu anda harus menggali, memimpikannya, dan melihatnya dengan jelas serta mengambilnya sebagai dasar bagi hidup dan kepemimpinan anda.
          3. VISI berkenan dengan kebutuhan dasar dari kehidupan; yang berhubungan dengan kepentingan “pribadi serta kepemimpinan dalam suatu organisasi.” Kebenaran ini menegaskan bahwa visi sejati akan bersifat obyektif, profitabel dan pragmatis bagi banyak orang, visi itu harus selalu membawa kebaikan dan kemanfaatan bagi banyak pihak, karena visi yang benar memiliki unsur altruistik.
          4. VISI membuka mata untuk melihat kekuatan saat ini dan hal-hal yang mungkin dicapai di masa depan, serta memberanikan untuk melompat ke air yang dalam. Visi sejati akan menolong setiap orang untuk memahami bahwa ia memiliki kekuatan dalam dirinya untuk bertindak maju memasuki masa depan.



          1. 3. TANDA DARI VISI. Setelah mempelajari karakteristik visi seperti yang telah diuraikan, sekarang anda dapat merpindah untuk melihat tanda dari visi. Ada beberapa tanda yang dapat menolong untuk mengidentifikasi VISi itu. Tanda-tanda itu adalah sebagai berikut:
          2. VISI biasanya berteriak keras (di dalam batin) tetapi tidak terucapkan, karena bertalian erat dengan kebutuhan mendasar yang akan membawa keuntungan bagi diri dan orang lain. Tanda pertama ini menerangkan bahwa apa yang disebut visi itu memiliki kekuatan yang sangat mempengaruhi batin setiap individu. Kekuatan dari visi ini membuat individu dimaksud menjadi sadar bahwa ia memiliki sesuatu yang harus diperjuangkan, walau pun pada awalnya ia sulit membaginya kepada orang lain.

          1. VISI itu akan terus menerus mendebarkan batin dengan frekuensi yang semakin tinggi. Visi sejati selalu akan memberikan dinamika bagi individu (pemimpin), dimana ia akan terus menyala dan menjadi dinamis oleh visi itu.
          2. VISI bersifat tunggal sebagai dasar bagi fokus satu-satunya dalam hidup dan kepemimpinan. William Beausay II berkata, “Satu adalah angka yang kuat.” Seseorang dapat saja memiliki beberapa visi bagi diri, rumah tangga mau pun pekerjaan atau karir dan kepemimpinan, tetapi setiap visi dimaksud harus bersifat tunggal, sehingga ia dapat difahami dan dikerjakan secara terfokus.
          3. VISI mendorong untuk menetapkan perhatian yang menjurus ke satu arah (tujuan)., yang menjelaskan tentang adanya ‘sense of purpose.’ Dalam kaitan ini visi yang memberi fokus itu mendorong sehingga pemimpin memahami tujuan yang untuknya visi itu diberi..
          4. VISI menyemangati naluri berpikir yang terus menalar mencari jalan ke luar ke fokus (yang membara dalam batin dan benak) untuk menjawab setiap kebutuhan terkait.
          5. VISI selalu selaras dengan potensi riil yang ada pada seseorang.  Potensi riil ini sering belum disadari sekarang, tetapi ada tanda-tandanya yang jelas. Dengan kata lain visi itu dapat disebut  visi sejati karena selaras dengan potensi riil dalam diri individu (pemimpin).



          1. 4. MENGGALI VISI. Setelah menggumuli dan mengenal tanda-tanda dari visi kini timbul pertanyaan lain, bagaimana menggali, menemukan, serta mengembangkan visi (keinginan suci) yang tertulis oleh Allah di dalam batin anda itu? dalam upaya menggali visi, hal pertama yang harus dibuat dari perspektif Kristen ialah berdoa, dimana Anda secara khusus menyatakan kepada ALLAH tentang kerinduan untuk menemukan tulisan tangan-Nya di dalam batin. Berdoa berarti mengadakan perenungan introspektif di hadapan Allah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mengenai keinginan suci (visi) yang telah ditulis-Nya di dalam batin. Ada beberapa beberapa langkah yang harus ditempuh dengan melihat tanda-tanda praksisnya seperti di bawah ini:
          2. Awalilah dengan mencermatilah keinginan terdalam yang adalah keinginan suci.” Keinginan suci ini harus dibedakan dari keinginan biasa, yang ada pada kebanyakan orang. Ingatlah bahwa keinginan suci ini bersifat khusus dan selalu berhubungan dengan kebutuhan pokok yang terasa. Untuk membedakannya dengan keinginan biasa, cermatilah nilai-nilai bagi keinginan itu dan cocokanlah dengan potensi terpendam dalam diri Anda.

          1. “Salurkanlah keinginan suci tersebut dengan jalan mengalimatkannya dengan kalimat berbobot. Contoh bagi kalimat berbobot dimaksud dapat dilihat dengan membandingkan pernyataan berikut: ‘Saya ingin banyak uang, hidup senang,’ dan ‘Saya mau memperkaya orang lain’.” Apabila Anda telah mengalimatkan visi maka anda sedang berpindah dari suatu ide kepada konsep. Konsep ini adalah sebagai lambang fakta, yang dengannya akan terwujud kenyataan yang didambakan secara riil nanti. Sebagai contoh, anda dapat merangkum pernyataan visi sebagai berikut: “…………. ada untuk memuliakan Allah dengan memperkaya banyak orang.” Perhatikanlah ini, “…….. ada” menunjuk kepada subyek yang substantif, yang keberadaannya adalah untuk memuliakan Allah. “Memuliakan Allah” menunjuk kepada utopi; dan “memperkaya banyak orang,” menunjuk kepada tujuan operasi kerja dari pribadi mau kepemimpinan dalam suatu organisasi.
          2. Sebagai dasar untuk melangkah membuat “suatu perencanaan strategis” guna melaksanakan visi anda dimaksud, maka anda membuat sebuah potret tentang bagaimana anda mengerjakan dan mengalami pemenuhan (menggapai) visi dimaksud” (sekarang di suatu masa yang akan datang) sebagai langkah kegenapan visi anda itu. Membuat potret masa depan diawali dengan membuat skenario masa depan sebagai dasar untuk membangun suatu perencanaan strategis (strategic planning). Dengan adanya perancanaan strategis ini, anda dapat mengetahui dengan pasti akan visi, misi, fokus dan inti bisnis kepemimpinan yang menjelaskan tentang tugas-tugas yang akan dikerjakan mencapai tujuan yang telah dicanangkan dalam organisasi yang anda pimpin.



          1. 5. VISI DAN IMAN. Iman sangatlah diperlukan dalam upaya menetapkan dan melaksanakan VISI. Iman di sini merupakan pengukur keabsahan visi dan penentu pelaksaannya. Kini timbul pertanyaan, apa sebenarnya IMAN itu, dan apa hubungannya dengan VISI? Dalam perspektif Kristen, Kitab Suci secara gambling menegaskan, “Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Di sini iman menjelaskan tentang visi sebagai sesuatu yang memiliki dasar pembuktian. Merumuskan hubungan ini lebih jauh, dapat dikatakan bahwa IMAN adalah VISI, yaitu “Melihat hal yang ingin kita capai, jauh sebelum itu ada” (J.C. Bowling). Beberapa unsur penting dari hubungan VISI dan IMAN (Iman dan Visi) dapat dijelaskan sebagai berikut ini:
          2. IMAN adalah dasar bagi VISI, yang merupakan landasan bagi pencapaian gambaran “mimpi masa depan” yang didambakan. Dapat dikatakan bahwa iman menjadikan visi sebagai suatu kenyataan, dan iman memastikan bahwa visi adalah sejati.

          1. IMAN meneguhkan VISI, dan berperan sebagai BUKTI bahwa visi yang didasarkan atas iman itu adalah nyata (riil), dapat dikerjakan serta dapat dicapai. Dalam kaitan ini, visi menjadi pasti sepasti iman akan TUHAN, dan ada hal-hal nyata yang akan dilakukan untuk mencapai hal-hal nyata lainnya di masa depan yang juga pasti.
          2. VISI yang dibangun di atas iman menjelaskan tujuan organisasi dan meneguhkan untuk berjalan ke depan mencapainya. Dengan adanya visi, maka individu (pemimpin) dapat melihat tujuan yang jelas ke depan,  serta dapat mengetahui apa-apa saja yang patut dikerjakan untu mencapai tujuan dimaksud.
          3. VISI dan IMAN meneguhkan kepemimpinan, sehingga pemimpin dapat memimpin orang lain yang diawali dengan membagi visi. Dengan adanya visi (kepemimpinan) maka pemimpin dengan sendirinya memiliki kuasa untuk memimpin, karena dengan visi dimaksud ia dapat membuat sesuatu terjadi. Dengan visi yang sama, ia  pun dapat menggerakan orang lain (bawahan) untuk bertindak secara sinergis dengan berbagi visi dimaksud. Dengan berbagi visi, pemimpin dapat memastikan bahwa upaya memimpinnya (leadership attempt) pasti akan terlaksana.
          4. VISI dan IMAN memastikan masa depan bertujuan, meneguhkan harapan mencapainya, karena VISI dan IMAN adalah “FAITH LEAP.” Dengan adanya visi bertujuan ini, individu (pemimpin) dapat melihat jalan ke masa depan yang memberikan kekuatan dan memberanikannya untuk melompat ke dalam peluang (melompat ke air yang dalam), mencipta masa depan yang cerah.
          5. VISI dan IMAN memberi semangat untuk membangun motivasi tinggi dan mendukung guna mengatasi tantangan bersama untuk maju secara konsisten.



          1. 6. MEMBAGI VISI. Telah dikatakan sebelumnya bahwa VISI memiliki kekuatan yang ampuh untuk mengangkat dan membawa seseorang ke atas serta ke depan. Secara khusus dapat dikatakan bahwa, VISI memberi kuasa bagi pelaksanaan kepemimpinan, karena itu, VISI KEPEMIMPINAN itu harus dibagi. Dalam kaitan ini, visi harus dilihat sebagai api yang membinarkan kekuatan yang menghangatkan. Bill Newman mengatakan: “Visi adalah seperti api unggun di perkemahan, dimana orang-orang akan berkumpul mengelilinginya, karena di sana ada cahaya, energi, kehangatan dan kebersamaan.” Visi yang memiliki kekuatan seperti yang digambarkan di sini menjelaskan bahwa visi dapat dibagi, sehingga menjadi milik semua orang. Sekarang bagaimana VISI itu dapat Anda bagi? Visi itu dapat dibagi dengan memperhatikan langkah penting berikut ini.



          1. Gunakanlah visi itu untuk melihat gambaran suatu akhir dengan jelas, sebagai dasar untuk melibatkan orang lain. Aristoteles berkata, “Jiwa tidak dapat berpikir tanpa adanya suatu gambaran.”  Dalam kaitan ini, visi memberi kemampuan untuk membuat dan membagi gambar visi, pemimpin dapat membuat visualisasi profil masa depan serta siap membaginya kepada orang lain.

          1. Perhatikanlah perubahan yang akan terjadi dengan adanya gambaran akhir atau gambaran profil masa depan dari visi ini, dan keuntungan apa yang saja yang akan dicapai, serta alasan kuat untuk mencapainya. Dengan gambaran akhir ini, seorang pemimpin dapat mengetahui secara pasti tentang apa yang dapat dan harus dilakukan untuk menggapai visi itu.
          2. Anda dapat berbagi visi itu dengan memberikan gambaran masa depan secara jelas. Dengan gambaran masa depan yang jelas ini anda memiliki alat untuk mengambarkan masa depan. dimana Anda juga dapat membangunkan keyakinan dan semangat semua orang yang anda pimpin bahwa visi dimaksud dapat dicapai secara bersama.
          3. Kunci untuk berbagi VISI dalam perspektif Kristen memiliki kekuatan khas. Kekuatan khas ini adalah seperti yang dikatakan oleh Larry Crabb, bahwa “Suatu visi yang dibagi berkenan dengan bagaimana seseorang adanya dan dapat menjadi kemudian, memiliki kuasa apabila Roh Kudus telah berbicara kepada jiwanya.” Di sini terlihat jelas bahwa Roh Kudus sendirilah yang meneguhkan visi di dalam jiwa seorang pemimpin. Di atas visi inilah pemimpin dapat membangun gambaran masa depan yang bisa diungkapkannya secara dinamis oleh pertolongan Roh Kudus.
          4. Kebenaran tentang berbagi visi yang memiliki daya dorong kuat ini ditegaskan oleh Burt Nanus dengan mengatakan, “Tidak ada mesin penggerak organisasi ke arah ekselensi dan sukses jangka panjang dari pada membagi secara luas suatu visi yang atraktif, bermanfaat, dan dapat dilaksanakan untuk mencapai masa depan.” Dari uraian Burt Nanus ini dapat dikatakan dengan tegas bahwa visi harus dirumuskan secara atraktif, pragmatis dan aplikatif yang olehnya pemimpin dapat membaginya kepada orang yang dipimpinnya. Berbagi visi seperti inilah yang menyebabkan adanya daya dorong yang menggerakan semua komponen organisasi untuk terlibat aktif dalam kinerja kepemimpinan.



          1. VISI DAN PERUBAHAN. Telah dibincangkan sebelumnya bahwa visi yang adalah keinginan suci memberikan kemampuan untuk memahami kehendak Allah dan melihat ke depan akan apa yang akan terjadi. Kondisi ini dapat disebut sebagai “perubahan.” Perubahan dapat dijelaskan sebagai keadaan yang dinamis yang terus bergerak ke arah bentuk yang baru ke depan. Perubahan ini dapat berbentuk berubahan internal atau pun perubahan eksternal, yang menyangkut perubahan esensi, bentuk, makna, fungsi dan peran yang dapat terjadi secara penuh maupun setengah, mengganti, modifikasi, dan sebagainya. Mengaitkan perubahan dimaksud dengan visi, maka Rick Warren mengatakan, “Visi adalah kemapuan untuk menilai dengan tepat perubahan-perubahan yang terjadi dewasa ini dan menarik manfaat dari perubahan-perubahan tersebut.” Mencermati apa yang diuraikan oleh Rick Warren ini dapatlah dikatakan bahwa dengan keinginan suci pemberian Allah (visi), pemimpin dapat belajar untuk melihat adanya perubahan-perubahan pesat yang terjadi dan menyesuaikan strategi serta tindakannya untuk melangkah secara baru menjawab tantangan perubahan dengan menginisiasi perubahan ke depan. Dalam kaitan ini, pemimpin perlu peka terhadap kondisi perubahan dalam arti yang sebenarnya. Hal inilah yang dikatakan oleh Rick Warren bahwa “visi adalah perasaan peka terhadap setiap kesempatan” Menghadapi kondisi perubahan dimaksud, ada dua hal yang dapat dikerjakan secara simultan yaitu:



          1. Mengembangkan sikap kepekaan terhadap masa depan. Dalam upaya mengembangkan kepekaan terhadap masa depan maka ada beberapa langkah yang perlu di cermati. Langkah-langkah tersebut adalah  antara lain:

          1)      Membangun pendekatan yang konstruktif sebagai upaya mengidentifikasi hakikat, bentuk, dan kadar perubahan yang sedang terjadi .

          2)      Mendefinisikan perubahan dengan melihat gejala-gejala dan mengadakan isolasi dari hakikat, bentuk dan makna perubahan yang sesungguhnya.

          3)      Mengantisipasi konflik yang terjadi akibat dari setiap perubahan dan memberikan batas sekat kepadanya sehingga tidak membawa akibat negatif.

          4)      Memberi arah yang tegas untuk mengendalikan perubahan terarah seseuai dengan visi yang ada untuk menciptakan masa depan yang di dambakan.

          1. Mencipta skenario masa depan menjawab tuntutan perubahan. Menagani perubahan yang sedang terjadi, pemimpin bertanggung jawab untuk mencipta skenario untuk menghadapi masa depan yang telah dicanangkan. Skenario masa depan itu dapat dilakukan dengan mengambil langkah berikut ini:

          1)      Menegaskan kembali akan visi yang telah ditetapkan untuk menetapkan arah yang jelas ke masa depan.

          2)      Menggali info dari pengalaman masa lalu terhadap isu yang berkaitan dengan visi untuk mempelajari kecenderungan-kecenderungan yang akan ditimbulkan oleh perubahan.

          3)      Menemukan indikator dari apa yang telah terjadi guna menemukan jawaban bagi apa yang mungkin terjadi nanti.

          4)      Menetapkan langkah-langkah strategis yang akan ditempuh ke depan untuk membawa perubahan, sehingga anda tidak digilas oleh perubahan itu.


          RANGKUMAN.

          Di sini telah didiskusikan tentang VISI dengan  mempertanyakan apakah sebenarnya VISI itu, apa pula karakteristik dan tanda-tanda-nya serta hubungannya dengan iman, serta bagaimana menggali dan membaginya di tengah perubahan yang nyata. Pokok-pokok dimaksud telah dijabarkan secara rinci sehingga diharapkan bahwa setiap aspek dari visi sudah menjadi jelas bagi anda. Kiranya anda dapat memahami, memiliki dan membatinkannya dalam hidup, yang menjadi landasan bagi anda untuk melaksanakannya. Telah ditegaskan bahwa visi dapat diumpamakan seperti api kecil yang dapat membakar hutan rimba dengan akibat yang dahyat. Dengan kekuatan visi, seorang individu (pemimpin) dapat melihat rencana Allah, ia dapat mamahami masa lalu yang memberikan kepastian tentang kebenaran visi masa kini untuk melangkah ke depan. Dengan visi seorang individu (pemimpin) dapat melihat masa depan dengan jelas dan ia pun akan mampu untuk mengajak orang lain untuk berjalan bersama-sama memasukinya. Bagaimana seseorang pemimpin dapat mengajak orang lain untuk turut bersama dengannya menuju ke masa depan? Hal penting yang perlu dilakukan seorang pemimpin untuk melibatkan orang yang dipimpinnya dengan visi kepemimpinan yang TUHAN berikan kepadanya, ialah:

          1. Berdoalah dengan tekun atas apa yang perlu diketahui dari TUHAN Allah berkenan dengan visi yang diberikannya.
          2. Berpikirlah sejernih mungkin untuk mencari secara introspektif dengan sensitivitas rohani yang tinggi.
          3. Berpikirlah sebesar (berpikir besar) dan seluas (berpikir mendalam) mungkin untuk memahami, dengan melihatnya secara jelas melalui gambaran mental yang lengkap.
          4. Kembangkanlah visi dimaksud melalui suatu gambaran mental dengan melakukan ‘brain storming’ untuk pemahaman lengkap.
          5. Padukan dengan nilai-nilai Anda untuk menetapkan suatu rumusan visi pribadi atau kepemimpinan.



          Sekarang Anda telah memiliki suatu pernyataan visi, yang olehnya anda dapat berbagi dan mengajak orang lain untuk memahaminya serta mengikut Anda ke depan.





          Salam doa,

          Dr. Yakob Tomatala