Senin, 24 Januari 2011

BAYANGANKANLAH ANDAI KRISTUS TIDAK DATANG....



nativity.jpg
Beberapa tahun yang lalu sebuah kartu Natal di buat dengan judul “ sekiranya Kristus tidak datang” judul ini terinspirasi dari perkataan Yesus dalam Yohanes 15:22, “Sekiranya aku tidak datang……..” Kartu tersebut menggambarkan seorang pendeta yang tertidur sejenak saat dia merenung di pagi hari menjelang Natal dan dia bermimpi mengenai keadaan dunia bila Tuhan Yesus tidak pernah datang.

Dalam mimpinya, pendeta itu melihat dirinya sedang memeriksa rumahnya, namun dia tidak menemukan kaus kaki-kaus kaki yang kecil yang di gantung di sudut perapian. Dia juga tidak menemukan lonceng Natal ataupun rangkaian bunga, dan tidak ada Kristus yang memberikan kedamaian, sukacita dan keselamataan. Lalu dia pergi keluar rumah dan menyusuri jalan-jalan umum. Tetapi dia tidak menemukan satu pun gereja yang menaranya menjulang ke langit. Akhirnya dia kembali pulang kerumahnya dan duduk diruang perpustakaan, namun setiap buku yang mengulas tentang Juruselamat telah hilang dari tempatnya.

Tiba-tiba bel pintu berdering dan seorang ibu pembawa pesan meminta dia untuk mengunjungi seorang ibu miskin yang sangat sakit. Ibu itu segera bergegas pergi dengan menggendong seorang anak yang sedang menangis. Sesampainaya di rumah ibu tersebut, pendeta itu segera duduk dan berkata, “ saya memeliki sesuatu disini yang dapat menghibur anda.” Dia membuka Alkitabnya untuk mencari satu janji Tuhan mengenai kesembuhan yang cukup dia hafal, tetapi Maleakhi adalah kitab terakhir yang dia jumpai dalam Alkitabnya. Hanya dapat menundukan kepala dan menangis bersama dengan wanita itu denagn kepedihan yang mendalam.

Dua hari berikutnya dia berdiri di samping peti jenasah wanita itu dan memimpin upacara pemakamam, tetapi tidak ada berita penghiburan, tidak ada firman mengenai kebangkitan, tidak ada pintu surga yang terbuka yang ada hanya “ dari debu kembali ke debu, dari abu kembali ke abu,” dan upacara perpisahan kekal. Pendeta ini akhirnya menyadari bahwa DIA tidak datang,” dan mendadak air mata terurai dan ia pun menangis tersendu-sendu dalam mimpi yang menyedihkan itu.

Tiba-tiba dia terbangun, dan segera terdengar teriakan  kegirangan dan pujian keluar dari mulutnya sewaktu dia mendengar paduan suara menyanyikan pujian dari gereja di sebelah rumahnya:

“Hai mari berhimpun,dan bersukacita
turut semua ke Betlhem;
Marilah pandang Tuhan bala surga,
Sembah dan puji Dia, Sang Raja.”

Hendaklah kita bersukacita dan memuji Dia saat ini, sebab Dia telah datang.dan marilah kita mengingat berita yang di sampaikan oleh malaikat,”jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Lukas 2:10-11.

Kiranya hati kita terbeban untuk melayani orang-orang yang tinggal di dalam kegelapan karena mereka belum pernah merasakan anugrah Natal dalam hidupnya.

“ Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan KIRIMKAN SEBAGIAN KEPADA MEREKA YANG TIDAK SEDIA APA-APA, karena hari ini adalah Kudus bagi Tuhan kita!”- Nehemia 8:11. (Dari sumber lain)

HIDUP Yang SEIMBANG


hidup_seimbang.jpgBrian Dyson, mantan eksekutif Coca Cola, pernah menyampaikan pidato yang sangat menarik. “Bayangkan hidup itu seperti pemain akrobat dengan lima bola yang dilempar melayang ke udara.  Anda bisa menamai bola itu dengan sebutan: 1) Pekerjaan/karir.  2) Keluarga.  3) Kesehatan.  4) Sahabat.  5) Semangat.
Anda harus menjaga semua bola tetap di udara dan jangan sampai ada yang terjatuh.  Kalaupun situasi mengharuskan anda melepaskan salah satu di antara ke lima bola tersebut, lepaskanlah pekerjaan karena pekerjaan adalah bola karet.  Pada saat anda menjatuhkannya, suatu saat ia akan melambung kembali, namun empat bola lain: keluarga, kesehatan, sahabat dan semangat adalah bola kaca.  Jika anda menjatuhkannya, akibatnya bisa sangat fatal!
Brian Dyson mencoba mengajak kita hidup seimbang.  Namun pada kenyataannya kita terlalu menjaga pekerjaan yang adalah bola karet.  Kita mengorbankan keluarga, kesehatan, sahabat dan semangat demi menyelamatkan bola karet tersebut.  Demi uang atau pekerjaan, kita mengabaikan keluarga.  Demi meraih sukses dalam pekerjaan, kita tidak memperhatikan kesehatan.  Demi uang dan pekerjaan, kita rela menghancurkan hubungan dengan sahabat yang telah kita bangun bertahun-tahun lamanya. 
Pekerjaan memang penting, namun jangan sampai pekerjaan atau uang menjadi berhala dalam hidup kita.  Ingatlah, kalaupun kita kehilangan uang, kita masih bisa mencarinya lagi.  Tapi jika keluarga sudah pecah dan hancur, kemana kita membelinya?
Jagalah prioritas hidup anda tetap seimbang, utamakan Tuhan dan keutuhan keluarga. (emai)

Push Up


push up.jpgSeorang profesor mata kuliah agama bernama DR. Christianson mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat.  Setiap siswa semester pertama diwajibkan mengikuti kelas ini.  Namun kebanyakan dari mereka memandang materi yang diajarnya sebagai kegiatan yang membosankan dan menolak untuk menanggapi kekristenan secara serius.
Tahun ini sang profesor mempunyai seorang siswa istimewa bernama Steve.  “Berapa push-up yang bisa kamu lakukan?” tanya profesor.  Steve menjawab, “Saya melakukan sekitar 200 setiap malam.”  “Apakah kamu dapat melakukan 300?”  Steve menjawab, “Saya tidak tahu.  Saya tidak pernah melakukan 300 sekaligus.”  “Apa menurutmu kau dapat melakukannya?” tanya profesor.  “Akan saya coba,” jawab Steve.
Pada hari Jumat, Steve datang lebih awal dan duduk di bagian depan kelas.  Saat kelas mulai, profesor mengeluarkan satu kotak besar donat.  Ia pergi ke baris pertama dan bertanya, “Cynthia, apakah kamu mau salah satu donat ini?”  “Ya,” jawab Cynthia.  Profesor lalu berpaling ke Steve, “Steve, maukah engkau melakukan 10 push-up agar Cynthia bisa mendapatkan donat ini?”  “Tentu saja!”  Dengan sigap Steve melakukan 10 push-up.  Profesor lalu pergi ke siswa berikut, “Joe, apakah kamu mau satu donat?” Joe menjawab, “Ya.”  Profesor menoleh ke Steve, “Maukah kau melakukan 10 push-up lagi untuk Joe?”  Steve segera melakukannya, dan Joe mendapatkan donatnya.  Demikian seterusnya Steve melakukan 10 push-up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donatnya.  Hingga akhirnya sang profesor tiba di meja Scott.  Scott berkata, “Bisakah saya melakukan push-up saya sendiri?”  “Tidak, Steve harus melakukannya,” jawab profesor.  “Kalau begitu, saya tidak mau donatnya,” kata Scott.  Namun sang profesor tetap menempatkan satu donat di atas meja Scott.  Dan Steve mulai melakukan push-up dengan agak perlahan karena terlalu lelah.  Para siswa mulai geram.  Selanjutnya mereka menolak donat yang ditawarkan, namun Steve tetap harus melakukan push-up dan sang profesor selalu menempatkan satu donat di setiap meja siswa yang menolak.
Akhirnya profesor tiba di meja terakhir: meja Susan. “Steve, maukah kamu melakukan 10 kali lagi agar Susan bisa memperoleh donat?”  Dengan amat perlahan, Steve melakukan 10 push-up terakhirnya.  Ia tahu ia telah menyelesaikan semua yang harus ia lakukan.  Profesor lalu berpaling ke kelas dan berkata, “Demikianlah Juruselamat kita Yesus Kristus, di atas kayu salib Ia telah melakukan semuanya.  Namun banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah!”  (email) 

Tempayan Retak



jar.jpgSeorang ibu Cina yang sudah tua memiliki dua buah tempayan, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.  Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tak bercela dan selalu memuat air hingga penuh.  Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.
Selama dua tahun hal ini berlangsung; setiap hari ibu itu membawa pulang air dan hanya satu setengah tempayan.  Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.  Sedangkan tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.
Setelah dua tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua di dekat sungai.  “Aku malu, sebab air bocor di bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.”  Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya?”  “Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu.  Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.  Kalau kau tidak seperti itu, maka rumahku takkan seasri ini sebab tidak ada bunga.”
Kita mempunyai kekurangan.  Justru kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan.  Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.
email  

Kembalikan Uang, Gelandangan Ini Jadi Pahlawan




gelandangan.jpgBagi sebagian orang, menemukan uang dalam jumlah banyak milik orang merupakan rezeki nomplok. Namun, tidak demikian dengan seorang tuna wisma di Amerika Serikat (AS) berikut ini.

Menemukan uang yang nilainya setara dengan puluhan juta rupiah, gelandangan bernama Dave Tally itu tidak gelap mata. Dia justru mengembalikan uang itu kepada pemiliknya. Kendati tanpa pamrih, niat baik Tally itu mendapat balasan lebih dua kali lipat dari nilai uang yang dia temukan.

Kantor berita Associated Press pada 10 Desember 2010 menuturkan, tunawisma asal Kota Tempe di negara bagian Arizona itu suatu ketika menemukan tas berisikan uang sebesar US$3.300 atau sekitar Rp. 29,7 juta. Tally baru saja sembuh dari kecanduannya terhadap obat-obatan terlarang dan alkohol.

Dia menemukan kantong tas berisi uang tersebut sepulangnya dari membetulkan sepeda. Tanpa pikir panjang, Tally langsung memberikan tas beserta isinya ke sebuah komunitas pelayan tunawisma di Tempe. Lelaki berusia 49 tahun itu tidak mengambil sepeserpun dari uang tersebut, padahal uang di kantongnya telah habis untuk membetulkan sepeda.

Setelah ditelusuri, ternyata gepokan uang di dalam tas tersebut milik Bryan Belanger, seorang mahasiswa di Universitas Negeri Arizona yang kehilangan tas ketika hendak membeli mobil bekas. Bersama dengan Stephen Spark, staf komunitas pelayan tunawisma, Tally mengembalikan uang tersebut kepada Belanger. Kisah Tally ini diberitakan oleh radio KTAR yang langsung menjadi pembicaraan seluruh kota.

Atas kejujurannya ini, Tally dipuji sebagai pahlawan para tunawisma karena telah merubah citra mereka yang buruk. Dewan kota Tempe yang tersentuh dengan kejujurannya, membuat rekening untuk sumbangan seluruh kota. Banyak warga yang kagum juga memberikan cek kepadanya yang jumlahnya bahkan melebihi uang yang dia temukan, yaitu senilai US$8.000 (Rp.72 juta). Tidak sedikit dari warga juga menawarkan pekerjaan kepadanya agar Tally dapat mandiri.

Seorang dokter gigi bahkan memberikan perawatan gigi dan memberikan gigi palsu secara gratis kepada Tally. Seorang pengacara menawarkan jasa pro-bono kepadanya untuk menangani kasus-kasus lama yang menimpanya. Walikota Tempe, Hugh Hallman, menjadikan hari ditemukannya uang tersebut sebagai hari Dave Tally.

“Saya tidak menyangka semua berakhir seperti ini. Saya hanya berpikir untuk mengembalikan tas tersebut dan semuanya selesai,” ujar Tally.

Dulunya, Tally adalah seorang pengawas di sebuah perusahaan kontraktor. Dia kehilangan pekerjaannya ketika pada tahun 1999 dia didakwa karena mengendara dalam keadaan mabuk. Karena itu juga dia kehilangan izin mengemudinya. Tally mengaku dia memang pernah kecanduan alkohol dan obat-obatan.

Tally mengatakan akan  menggunakan uang yang dia peroleh dari sumbangan untuk merencanakan hidupnya. Dia mengatakan ingin membuka sebuah pusat pelatihan komputer. Dia juga mengatakan akan memilih pekerjaan yang ditawarkan kepadanya.(VIVAnews)

Pelari Kelas Dunia


sprinter.jpgBeberapa tahun lalu di Elkhart, Kansas, dua orang kakak beradik bekerja di sekolah.  Pagi-pagi sekali tugas mereka adalah menyalakan api dalam tungku perapian dalam kelas supaya kelas tetap hangat selama proses belajar.

Di suatu pagi yang sangat dingin, kakak beradik itu membersihkan perapian dan mengisinya dengan kayu bakar.  Mereka mengambil jerigen yang biasa diisi minyak tanah dan salah seorang menyiramkannya ke kayu dan menyalakan api.  Ledakan langsung mengguncang gedung sekolah tua.  Api langsung menewaskan si kakak dan membakar si adik.  Ternyata jerigen itu secara tidak sengaja terisi bensin.

Dokter yang merawat si anak yang terluka bakar menyarankan untuk mengamputasi kakinya.  Orangtua anak itu sangat sedih karena sudah kehilangan satu anak dan masih akan kehilangan kaki dari anak yang lain.  Tapi mereka tidak kehilangan iman.  Mereka meminta dokter untuk menunda amputasi.  Dokter setuju.  Setiap hari mereka minta penundaan pada dokter, sambil berdoa agar kaki anak mereka bisa sembuh.

Selama dua bulan, kedua orangtua dan dokter berdebat tentang amputasi itu.  Mereka menggunakan waktu untuk menanamkan kepercayaan pada si anak bahwa suatu hari ia akan bisa berjalan lagi.  Akhirnya diputuskan untuk membatalkan amputasi.  Pembalut pada kaki sang anak mulai dibuka, terlihat kaki kanannya hampir 8 cm lebih pendek dibanding kaki kirinya.  Jari kaki kirinya hampir semuanya terbakar.  Tetapi anak itu bertekad kuat.  Meski sakit, ia memaksa dirinya berlatih setiap hari, karena dia tahu ada orangtuanya yang berdoa buat dia.  Akhirnya, ia berhasil berjalan beberapa langkah.  Ia terus berlatih berjalan sampai akhirnya ia membuang kruknya.  Sekarang ia bisa berjalan normal.  Tak lama kemudian ia dapat berlari.
Pemuda bertekad kuat ini terus berlari dan berlari dan berlari, dan kaki yang tadinya hampir diamputasi itu membawanya memecahkan rekor dunia dalam lari satu mil.  Dialah Glenn Cunningham, yang lebih dikenal sebagai “Manusia Tercepat di Dunia” dan dijuluki atlet abad ini di Madison Square Garden. WJ-email  

SAUDAGAR TOMAT


tomato.jpgPada suatu ketika dengan bermodalkan ijazah SMP, seorang anak muda dari kampung mencoba mengadu nasib di Jakarta.  Dia melamar ke sebuah perusahaan komputer terkemuka di dunia yang berkantor di Jakarta sebagai office boy atau tukang sapu.  Namun dia tidak diterima hanya karena ia tidak mengisi alamat email yang ada di formulir, meskipun sebenarnya dia lulus tes, bahkan hasil tesnya sangat baik.
Dengan perasaan kecewa dan sedih akhirnya dia meninggalkan perusahaan tersebut dan kembali ke kampung.  Dengan sisa semangatnya dia mencoba bercocok tanam sebagai lahan kehidupannya. 
Lima tahun kemudian di sebuah kampung ada seorang saudagar tomat yang sangat sukses.  Berita kesuksesannya bahkan sudah menyebar ke kota.  Kemudian suatu hari seorang wartawan perempuan berkunjung ke kampung tersebut dan akhirnya bertemu dengan saudagar tomat itu.  “Pak, apakah bisa diceritakan bagaimana perjalanan hidup Bapak sehingga bisa menjadi saudagar tomat yang sangat sukses seperti ini?”  Sang saudagar tomat pun bercerita banyak kepada sang wartawan.  Di akhir wawancara, wartawan berkata, “Terima kasih Pak, atas ceritanya.  Apakah Bapak punya email?  Supaya nanti lebih mudah berkomunikasi dengan Bapak.”  Mendengar kata ‘email’ ia mengerutkan dahinya sambil berkata, “Bu wartawan, saya tidak punya email.  Kalau saya punya email, mungkin saya tidak bisa menjadi saudagar tomat yang sukses di kampung ini, karena mungkin saya masih menjadi tukang sapu di Jakarta.”
Dalam hidup selalu ada kabar baik dan kabar buruk.  Kita tidak pernah tahu apa maksud semua yang sedang disiapkan Sang Maha Pencipta untuk kita.  Yang bisa kita lakukan, baik itu kabar baik ataupun kabar buruk adalah menjalankannya dengan pikiran dan hati yang positif.  Sebuah pepatah sangat terkenal berkata, “Anda akan menjadi seperti apa yang sering anda pikirkan.” (email) 

Minggu, 23 Januari 2011

AMAZING GRACE


john newton.jpgJohn Newton lahir di Inggris tahun 1725.  Ibunya meninggal ketika John berusia tujuh tahun.  Ayahnya, seorang nakhoda kapal laut.  Berhubung tidak ada yang mengasuh John, maka John ikut berlayar dengan ayahnya.  Bocah kecil yang berperangai lembut ini langsung mengalami kejutan berada di dunia pelaut yang kasar dan suka mabuk-mabukan.  Keadaan menjadi lebih parah ketika beberapa tahun kemudian John bekerja di kapal lain.  Di situ ia sering diliciki dan dipukuli oleh rekan-rekan yang jauh lebih besar dan dewasa.  Pernah ia melarikan diri, tetapi tertangkap dan dipaksa bekerja di kapal lain.  Ia bekerja di kapal yang membeli budak belian di Afrika.
Pada suatu hari, John terkena wabah penyakit dan terkapar hampir mati di Afrika.  Kali lainnya ia nyaris tewas tenggelam ketika kapalnya ditimpa badai sepanjang hari dan malam.  Setelah menderita sakit keras pada usia 29 tahun, ia melepaskan pekerjaannya sebagai nakhoda dan bekerja di kantor pabean pelabuhan.  Sejak itu John mulai membaca banyak buku untuk mengejar ketertinggalan pendidikan masa mudanya.  Salah satu buku yang dipelajarinya adalah Alkitab. Ia merasa terpesona membaca tentang anugerah Allah kepada manusia yang tampak dalam diri dan pekerjaan Yesus.
Setelah sembilan tahun mempersiapkan diri, John Newton menjadi pendeta gereja Anglikan.  Bidang yang banyak ditekuninya adalah pelayanan kepada orang sakit jiwa, pemberantasan perbudakan, diakonia dan musik gereja.  Tidak kurang dari 300 lagu dikarang oleh John. Salah satu diantaranya adalah Amazing Grace yang merupakan ungkapan rasa takjub dan terpesonanya dia akan anugerah Allah.
Allah memberi hidup bukan karena manusia berhak menerimanya, melainkan semata-mata karena anugerah.  Menerima suatu pemberian yang indah, padahal sebenarnya kita tidak berhak menerimanya, adalah anugerah.  John Newton merasakan dan mengakui, bahwa setiap hari sepanjang hidupnya ia menerima banyak anugerah Allah.
Pada usia 80 tahun, John menjadi pikun.  Namun ia berkata, “Tetapi ada dua hal yang saya tidak bisa lupa, bahwa saya orang berdosa, dan bahwa Yesus adalah Juruselamat saya.”   (ai)  

PITA KUNING Di POHON EK


ImageSeorang pria asal White Oak, Georgia, Amerika, menyia-nyiakan kebaikan istrinya yang cantik.  Dia sering pulang dini hari dalam keadaan mabuk, dan sering memukuli istri dan anak-anaknya.
Suatu malam ia memutuskan pergi ke New York, dengan berbekal uang yang dicuri dari tabungan istrinya.  Di New York, pria itu mencoba berbisnis bersama beberapa orang temannya.  Sambil berbisnis ia menikmati seks bebas, berjudi dan mabuk-mabukan.
Bulan dan tahun berlalu, dia sama sekali tidak memberi kabar tentang keberadaannya kepada keluarga yang ditinggalkan, sampai akhirnya ia bangkrut dan terlibat hutang.  Ia melakukan penipuan dengan menulis cek palsu.  Kemudian ia tertangkap dan dijerat hukuman penjara selama tiga tahun.
Menjelang akhir masa tahanan, ia mulai merindukan istri dan anak-anaknya.  Ia mengumpulkan keberaniannya dan menulis sepucuk surat kepada istrinya.  Di surat itu ia mengemukakan penyesalan dan kerinduannya untuk membina keluarga yang harmonis. “Sayang, engkau tidak perlu menungguku.  Namun jika engkau masih mau aku kembali, ikatkanlah sehelai pita kuning pada pohon ek yang ada di pusat kota.  Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning , tidak apa-apa.  Aku tidak akan turun dari bis dan akan terus ke Miami.  Aku berjanji tidak akan mengganggu kehidupanmu dan anak-anak...”  Itulah sekelumit isi suratnya.
Setelah dibebaskan, pria itu naik bis dengan tujuan kembali ke kampung halamannya.  Ia tidak tahu apakah istrinya sudah menerima suratnya dan mau memaafkannya atau tidak.  Di dalam bis ia bercerita dan meminta sopir bis untuk menjalankan bisnya perlahan-lahan saat memasuki pusat kota White Oak.
Saat bis memasuki White Oak, detak jantung pria itu berdebar sangat kencang, tubuhnya basah oleh keringat.  Tiba-tiba air matanya menetes tanpa henti saat melihat ratusan pita kuning bergantungan di sebuah pohon Ek.  Seluruh penumpang dalam bis yang juga sempat ikut tegang, bersorak.  Mereka sepakat mengantar pria yang disambut oleh kehangatan cinta istri dan anak-anaknya.  Saking terharunya, si sopir bis menelepon surat kabar New York Post untuk memuat kisah indah tersebut.  Yang tak kalah menariknya, seorang penulis lagu yang juga ada dalam bis itu, terinspirasi untuk menulis sebuah lagu.  Februari 1973, lagu berjudul “Tie a Yellow Ribbon Arround the Old Oak Tree” dirilis dan langsung menjadi hits.

Selasa, 04 Januari 2011

Penyertaan TUHAN disepanjang jalan

Lirik lagu yg pernah populer menyatakan: 
bersama Yesus lakukan perkara besar
bersama Yesus tidak ada yang sukar
bersama Yesus ada jalan keluar
untuk masalahku.....untuk masalahmu
untuk masalah kita semua

Kita mempercayai bahwa bersama Yesus kita dapat melakukan perkara-perkara besar ,
tetapi masalahnya apakah bersama Yesus TIDAK ADA YANG SUKAR ?
Penyertaan Tuhan Yesus banyak intepretasikan oleh banyak orang kristen sebagai jaminan
hidup yang terbebas dari segala persoalan, seolah kita terus berjalan ditaman bunga dengan
aroma wangi dan indahnya burung berkicau, tak kerikil ,tak ada badai...oh indah sekali?
Realitanya penyertaan Tuhan bukanlah seperti model yg kita rancangkan,
lalu bagaimana arti penyertaan Tuhan sesungguhnya ?

1.      Penyertaan TUHAN bukan berarti bahwa TUHAN menjamin hidup umatNya bebas dari persoalan.
Alkitab menceritakan kepada kita bahwa sejak bangsa Israel keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa TUHAN selalu menuntun umatNya, TUHAN menyertai umatNya.
Keluaran 13: 20-21:
TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu”  Jelas bahwa TUHAN menyertai mereka. 


Tidak ada orang yang meragukan hal ini. Tetapi apa yang terjadi dalam perjalanan mereka selanjutnya? Sejumlah besar persolan harus mereka hadapi.

      Di dekat Pi-di depan Baal-Zefon mereka sangat ketakutan dikejar bangsa Israel yang ada di belakang mereka dan di depan mereka Laut Teberau.
      Di Gurun Syur mereka berjalan tanpa mendapat air selama tiga hari.
      Di Gurun Sin mereka bersungut-sungut karena mereka mengalami kelaparan.
      Di Rafidim mereka mulai bertengkar dengan Musa karena mereka tidak mendapatkan air.
     Sedangkan tiang awan dan tiang api masih ada di depan  mereka.
 Apakah sungguh TUHAN masih menyertai mereka?  Jika TUHAN masih menyertai mereka
mengapa mengapa pada faktanya mereka mengalami persoalan? Jika TUHAN tidak lagi
menyertai mereka mengapa tiang awan dan tiang api masih ada di depan mereka?
      Pertanyaan yang sama sering kali diajukan oleh banyak orang kristen khususnya pada saat mereka mengalami akumulasi persoalan yang luar biasa. Apakah TUHAN masih menyertaiku? Apakah TUHAN masih memimpin hidupku? Jika ya, mengapa persoalan hidup ini harus kuhadapi? Mengapa persoalan selalu datang silih berganti dalam hidupku? Dan mereka menjadi frustrasi dan bersungut-sungut kepada TUHAN.
      Jika kita mengerti dengan benar apa arti penyertaan TUHAN itu, maka kita tidak akan frustrasi dan bersungut-sungut kepada TUHAN, kita tidak akan menyalahkan TUHAN. Karena TUHAN memang tidak pernah berjanji bahwa hidup umatNya akan dihindari atau dibebaskan dari masalah.
      Hakekat hidup ini memang penuh dengan masalah, tapi masalah yang kita alami tidak harus membuat kita kehilangan iman dan berkata: “TUHAN dimana pimpinanMu?” Berbagai masalah boleh datang tetapi  banyak atau sedikitnya masalah tidak dapat menjadi ukuran bahwa TUHAN tidak menyertai kita. Penyertaan TUHAN bukan berarti hidup kita steril dari  masalah.
Kalau begitu apakah arti penyertaan TUHAN itu?

2.      Penyertaan TUHAN bukan berarti bahwa TUHAN menjamin hidup umatNya berkecukupan senantiasa
Lepas dari Laut Teberau mereka melakukan perjalanan yang panjang di padang gurun Syur. 
Di tengah-tengah panas matahari yang menyegat mereka harus terus berjalan. Pada mulanya
mereka begitu antusias.
Panas terik matahari yang menyengat badan mereka tidak mereka hiraukan; debu tebal  yang 
menerpa wajah dan mata mereka tidak mereka perdulikan. Mereka terus berjalan dengan
bersemangat. Mulut mereka penuh dengan nyanyian mengingat perbuatan TUHAN yang besar
yang membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Mesir.
      Pasal 15 dibuka dengan pernyataaan: “Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi TUHAN” dan ayat 21 “Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: “Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi dan luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkanNya ke dalam laut”.
      Tiga hari lamanya mereka telah berjalan di padang gurun Syur. Mereka mulai letih, lelah dan haus. Sementara itu persediaan air minum mereka makin menipis. Mereka mulai kuatir dan kuatir.
Mulut mereka tidak lagi bernyanyi; hati mereka tidak lagi bersukacita; mereka tidak lagi antusias. Mereka mulai frustrasi. Mereka terus berpikir mengapa TUHAN membiarkan mereka kehausan?
      Puncak kekecewaan mereka terjadi ketika mereka sampai ke Mara. Mereka melihat sebuah oase yang jernih. Dahaga mereka bangkit. Mereka berebut mengambil air itu dan meminumnya. Tetapi ternyata air itu pahit rasanya.


Ayat 24 berkata: “Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?”

      Tiang awan dan tiang api masih ada di depan mereka dan tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa TUHAN masih menyertai mereka,  tapi pada kenyataannya mereka mengalami masalah. Dan masalah mereka adalah masalah kebutuhan dasar: yang tidak dapat ditawar-tawar, yaitu:  minum.

      Bagaimana kita menafsir hal ini? Bukankah ini berarti bahwa penyertaan TUHAN tidak menjamin hidup umatNya selalu berkecukupan?

Kalau begitu apakah penyertaan TUHAN itu?
3. Penyertaan TUHAN berarti TUHAN hadir dan berfirman kepada umatNya.
      Sulit sekali bagi bangsa Israel untuk mengerti tentang penyertaan TUHAN. Kehidupan di Mesir selama lebih empat ratus tahun mempengaruhi gaya hidup dan cara pikir mereka. Mereka sulit memahami jalan TUHAN:
      Mengapa sementara tiang awan dan tiang api masih ada di depan mereka mereka tidak mendapat air untuk melepas dahaga mereka?
      Mengapa sementara tiang awan dan tiang api masih ada di depan mereka dan mereka mengalami kehausan yang luar biasa dan air yang mereka temui justru pahit?
      Mengapa di Mesir tanpa tiang awan dan tiang api mereka dapat menikmati makan dan minum yang cukup?
      Bagi mereka banyak yang tidak logis dan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan pahami yang akhirnya membawa mereka pada puncak kefrustrasian pada waktu mereka menemui Mara, air yang pahit itu.
      Perasaan TUHAN tidak menolong mereka dari kesulitan mereka membuat frsustrasi mereka berubah menjadi sungut-sungut, dan rasa ingin meninggalkan TUHAN.
      Ketika mereka frustrasi Musa berdoa kepada TUHAN. TUHAN berkata lemparkan kayu itu ke dalam air, dan air itu menjadi manis.Lalu mereka minum sebanyak-banyaknya; mereka puas.
      Tapi bagi saya, bukan di situ letak penyertaan TUHAN. Letak penyertaan TUHAN bukan terletak pada waktu TUHAN merubah air pahit itu menjadi manis, karena mujizat itu dibuat TUHAN karena “paksaan”,  tetapi penyertaan TUHAN justru terletak setelah mereka minum air yang manis itu TUHAN berkata-kata kepada mereka. TUHAN menegur mereka, TUHAN memperingati mereka. TUHAN memberi ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturanNya kepada mereka agar mereka hidup benar di hadapanNya.
      Inilah penyertaan TUHAN yang jauh lebih bernilai dari sekedar materi yang kita punya atau tidak kita punya, dari hal-hal yang bersifat lahiriah.
Firman TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.
Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni,
membuat mata bercahaya.
Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya;
hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,
lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua;
dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.
Lagi pula hambaMu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar (Mazmur Daud 19: 8-12).
      Orang yang disertai oleh TUHAN selalu disertai oleh firmanNya. Entah firman TUHAN itu mendidik, menegur, menghajar atau menghibur dan mengkuatkannya.
      Apa artinya kita mengalami kekayaan yang luar biasa jika TUHAN tutup mulut kepada kita. Buat apa kita mencapai prestasi yang gilang gemilang jika TUHAN memalingkan mukanya dari pada kita? Itulah kesedihan dan kehancuran yang luar biasa dalam kehidupan kita. Tapi jika TUHAN masih mau menegur kita walalupun itu menyakitkan bersyukurlah.
      Tidak terbayangkan jika seandainya TUHAN tidak lagi mau berkata-kata kepada kita Ia Palingkan wajahNya daripada kita. Ia tidak lagi memperdulikan segala pikiran dan tindakan kita.
      Pada saat itu kita hanya bisa berpikir dengan pikiran kita; kita mengambil keputusan hanya dengan pertimbangan kita;  kita bertindak semata-mata atas dasar kehendak kita; kita menjadi penguasa dan hakim atas diri kita, sehingga kita tidak dapat lagi membedakan apakah kita benar atau salah.  Dan tanpa kita sadari tiba-tiba kita tergelincir dan jatuh. Betapa menakutkannya saat itu.
      Karena itu  Firman TUHAN itu sungguh-sungguh harta yang tidak ternilai. Disinlah kita harus bersandar.
      Firman TUHAN yang kita dengar dan kita pelajari tiap-tiap hari seharusnya mendatangkan iman dalam hati kita. Semakin kita mengenal TUHAN semakin kita beriman kepadaNya. Dan iman inilah yang modal satu-satunya ketika badai kehidupan melanda kita.
      Tahukah kita apakah yang dapat menjadi sandaran satu-satunya, sandaran terakhir yang dapat menopang seorang anak manusia ketika ia  mengalami krisis hidup? Harta kekayaan kitakah? Pendidikan kitakah? Reputasi kitakah? Prestasi kita? Relasi Kita?
Dan yang terakhir,

4. Penyertaan TUHAN berarti bahwa TUHAN menuntun umatNya pada jalan yang tidak salah dan tidak pernah salah.
      Ketika bangsa Israel dalam frustrasi yang hebat memang mereka bersungut-sungut kepada Musa. Tetapi sebenarnya mereka tahu persis bahwa yang membawa mereka keluar dari Mesir dengan perbuatan-perbuatan ajaib bukanlah Musa tetapi TUHAN sendiri. Dengan bersungut-sungut kepada Musa sebenarnya mereka sedang melancarkan protes kepada TUHAN.
      BIS menerjemahkan sungut-sungut dengan “mengomel”, artinya marah dengan mengeluarkan banyak kata-kata. Mereka terus berbicara dengan perasaan tidak senang. Mereka tidak senang dan menyesal mengikuti jalan TUHAN. Mereka tidak lagi bisa melihat kebaikan TUHAN dan mempercayaiNya.
      Praktisnya, sungut-sungut berarti: “Saya tidak senang dengan pimpinanMu. Engkau TUHAN tidak bijaksana. Jangan atur lagi hidup saya, sekarang saya akan mengatur diri saya sendiri!”. Inilah salah satu dosa yang dibenci TUHAN dari bangsa ini.
      Ketika manusia bersungut-sungut kepada TUHAN manusia menjadi picik dan tidak berpikir logis lagi. Mereka tidak dapat lagi melihat kasih TUHAN dan pertolongan TUHAN yang telah mereka terima di masa-masa yang lalu. Mereka memandang TUHAN dengan penuh curiga.
      Bangsa Israel tidak dapat lagi berpikir logis, ‘Jika TUHAN sudah menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun melalui arus lautan yang terbelah, mungkinkah TUHAN membiarkan mereka mati kehausan beberapa hari kemudian?’ Tentu saja tidak!. Tetapi ketidak percayaan membuat mereka memandang segala sesuatu dari sisi gelap.
      Ayat 27 mengatakan: “Dan sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada 12 mata air dan 70 pohon korma”. Ayat ini pasti menyentak kita semua. Dan fakta ini seharusnya membuat orang Israel malu kepada TUHAN. Mengapa? Karena Elim letaknya hanya 7 mil dari tempat mereka bersungut-sungut.
      Seandainya mereka percaya bahwa bahwa TUHAN menuntun umatNya pada jalan yang tidak salah dan tidak pernah salah, maka pasti mereka tidak akan bersungut-sungut.
      Mereka pasti bisa bertahan di dalam kesulitan mereka. Mereka akan terus berjalan tanpa mengeluh karena mereka tahu di depan mereka ada Elim, suatu tempat yang disediakan TUHAN agar mereka melepaskan dahaga dan lelah mereka.

      Seandainya Yakub tahu sewaktu ia lari dari rumah bapaknya di kejar Esau bahwa suatu hari dengan penyertaan TUHAN ia akan kembali lagi kerumahnya dan berpelukan dengan Esau, maka pasti ia tidak akan sangat ketakutan pada saat itu.

      Seandainya Yosua  tahu bahwa dibawah kepemimpinannyalah TUHAN akan membawa bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian dan merebutnya satu-persatu, maka pasti ia tidak akan merasa gentar dan tawar hati.

      Seandainya Elia tahu bahwa pada akhirnya ia tidak akan mengalami kematian tetapi justru ia dibawa oleh TUHAN naik ke sorga, maka pasti ia tidak akan takut kepada Izebel dan frustrasi ingin mati.
      Seandainya Ayub tahu bahwa setelah penderitaan yang hebat itu ia akan dipulihkan oleh TUHAN, Ayub pasti tidak bersungut-sungut dan berpikir bodoh.
      Seandainya kita tahu bahwa TUHAN menuntun pada jalan yang tidak salah dan tidak pernah salah dan dengan iman  melihat Elim di depan sana, maka kita akan tetap bertahan dalam kesulitan hidup saat ini.

      Kita perlu mengunakan iman untuk menerobos kabut yang kelam yang menutupi hidup kita kini, dan melihat ada TUHAN di sana, di masa depan kita dan sekarang Ia pun sedang memimpin kita.
      Memang kadang kala kehadiran dan penyertaan TUHAN itu begitu nyata dalam hidup kita, tetapi kadang-kadang, di waktu lain,
      ketika persoalan berat datang kepada kita,
      ketika rentetan musibah menimpa keluarga kita, ketika kegagalan terus akrab dengan kita,
      ketika segalanya sulit dimengerti termasuk jalan yang TUHAN buat bagi kita,
      yang harus kita lakukan hanya satu PERCAYALAH, Ia mengasihi kita. Jangan menuduh TUHAN, jangan bersungut-sungut kepada TUHAN.